Rss Feed
  1. Lembayung Senja

    Tuesday, April 28, 2015

    Serupa kanvas
    Tertoreh, terlukis dengan eksotis
    Tertumpah warna, jingga, merah muda dan biru laut
    Langit Jakarta sedang sangat memikat

    Seperti senja ini,
    Ku nikmati lumat-lumat lembayung warna nan anggun
    Tiada ucap selain syukur

    Lalu aku lagi-lagu terpana kepada singgasana-Mu
    Meliuk indah, beriak panorama, ooh tak mampu lagi ku sebut
    Aku jatuh cinta,
    Pada langit di ujung jalan selat selayar petang ini

    17.55
    28 April 2015

    Jl. Selat Selayar, Jakarta

    |




  2. Lirih terdengar tipis, sajak berbulan lalu kulantunkan untukmu
    Kita beri nama, Sebait cinta dalam puisi
    Delapan belas maret terajut kata

    Masih terekam manis ketika kau ucapkan syukur
    Atas asa yang kita yakini bernama cinta

    Lembayung senja pun cemburu melihat kau mendekapku
    Sejauh jarak seribu empat ratus dua puluh kilo
    Tak berarti untuk kita, waktu itu

    Lalu tentang rindu,
    Yang ternyata terlalu pongah menyita waktu
    Bermalam-malam tanpa jeda kata,
    Iya, hanya rindu membelenggu

    Dan untuk alurmu,
    Antara ragu yang membuatmu gagu
    Aku menikmati sunyi dan ucapmu sebelum mata memejam
    Dan aku.. Hanya bisa menunggu
    Merindu berpuisi bersamamu

    12.11
    28 April 2015
    |


  3. Penikmat Hujan

    Sunday, April 26, 2015


    Duduk manis penonton hujan
    Berdetik menit tak peduli dingin tertular
    Sesimpul senyum tak lekang dengan mata berbinar
    Aku memeluk hujan senja ini

    Langit merah muda turun perlahan menjemput malam
    Rasanya enggan temui lagi gelap yg kentara pengap

    Ku tatap lumat-lumat rintik dengan setia
    Hadirkan simfoni tanpa kata
    Aah.. Terlalu merdu untuk seorang wanita

    Lalu jemari mulai membeku
    Tak izinkan hangat darah mengalir membantu
    Mungkin bermesra hujan terlalu dibuai nafsu

    Tapi memang rinai ini tak pernah alpa
    Walau hanya sekedar menyapa
    Pudarkan air mata di pelupuk mata
    Lahirkan syair berjuta-juta kata

    17.56
    26 April 2015

    Setelah bermenit-menit menikmati hujan di halaman rumah..
    |




  4. Tunggal
    Tak berpantul selayak cermin
    Bayang pun acuh
    Tunggal
    Tanpa gaung berganda
    Bisu berdesing sunyi
    Memekakan telinga tanpa suara

    Kau!
    Pengembara congkak berbekal tongkat
    Tapi tak cukup nyali
    Masih berpaling ke belakang langkah
    Menunggu cinta lama kembali?
    Ah, Tak bernyali!
    Rasanya janji tersangkut dalam buai mimpi

    Aku pendayung perahu di atas sungai tak berpenghuni
    Merapatkan diri di bibir air, menatap nanar selaksa hutan
    Gelap tak tersentuh nyawa
    Hanya resah menghitung hitung hari yg rontok percuma
    Menunggu siapa?

    Tak mampukah mendayung sendiri?
    Topanglah raga hati walau rapuh utk berdiri
    Karena tak akan berlabuh jika berdayung mundur dgn lelaki tak bernyali
    Biar dia mengubur lampaunya dulu
    Baru sudi menyapa kembali

    23.23
    Jakarta, 25 April
    |


  5. Memecah Bisu Ruang Rindu

    Saturday, April 25, 2015

    Jingga terbuka selebar-lebar senja sabtu ini
    Di antara rintik yg manis perlahan menyentuh tanah dengan dingin
    Namun pelangi belum mau lengkungkan seberkas senyum

    Setelah bermalam-malam penuh rindu aku beku di antara bayangmu
    Ingin menampik cinta yg terlalu lekang dalam jiwa
    Tapi aku tak mampu
    Aku terluka setelah sapamu dengan masa lalumu
    Aku tak ingin kau sebercanda itu

    Di setiap butir tasbih, ayat ayat doa dipenghujung sujud lima waktu
    Aku masih menyebut namamu

    Lalu sapa memecah rindu yg semakin pucat pasi sedetik waktu
    Memeluk kata, sesederhana itu aku merindumu
    Tularkan hangat dalam jiwa yg kelu membisu
    Terima kasih atas sapamu semalam, wahai pelukis rindu

    17.45
    25 April 2015

    |


  6. Sekuat Kata dalam Suratmu

    Tuesday, April 21, 2015



    Tiap lekuk wajahmu semakin lekung gariskan tubuh yang perlahan terkikis
    Gelap tak niscaya sinar dalam sorot mata yang teduh namun redup
    Wajahmu menyimpan sakit dalam raga dan hatimu dik

    Ku dendangkan lagi nada nada tulusmu dalam secarik surat singkat untuk sang Rabb
    Surat yang kau tulis satu setengah tahun lalu, sehari setelah bertambahnya usiaku
    Terluapkan luka berbalut duka dalam takut bimbang akan cinta yang tak jua memeluk istana kita
    Aku tak pernah seperih ini membaca tulisanmu
    Untuk semua duka yang harus tergoreskan dalam emasnya jalanmu,
    Untuk semua kata yang harus kita telan di dalam ruang bisu perkara tiap pribadi
    Aku yakin, ini nikmat yang terlalu kaya untuk kita

    Belum dua dekade kau menapak jejak di atas tanah atas izin-Nya
    Masih panjang cerita terukir di atas altar hidupmu hai pangeran kecil
    Jangan lagi redup
    Kau tak boleh sasar akan asa yang tertular nafsu
    Kau terlalu tangguh untuk kalah
    Semua proses dalam peliknya cerita ini, kau tokohnya
    Tenanglah, ikhlas, yakini itu..

    18.37
    21 April 2015

    Sepulang tengok kemoterapi kedua adik di RSCM
    |


  7. Untuk apa kau terus menyulam?
    Menusukkan jarum demi jarum di antara jemari
    Sadarkah kau? Tidak ada seberkas kainpun yang kau pegang
    Sudah, jangan lagi kau tusuk jarum diujung jemarimu
    Usailah tiap tetes darah yg akhirnya percuma untuk terjatuh

    05.37
    21 April 2015

    Karena perempuan terlalu berharga untuk melulu terjatuh dalam luka
    Selamat Hari Kartini Perempuan Indonesia

    |


  8. Kata Dalam Gigil Subuh

    Monday, April 20, 2015

    Subuh kembali menjemput
    Setelah engkau lagi lagi menembus pagi dalam diam

    Aku mencarimu dalam setiap detik malam berdentang
    Tak jua mengerti akan alur yang kau maksud
    Sunyi tanpa kata dan suara, seperti ini alurmu?
    Hey, diam bukan pilihan tepat untukmu saat ini

    Untuk perempuan yang kau beri nama Lentera
    Akan meredup jua ketika diacuhkan dalam malam panjangnya
    Ia tak akan benderang ketika tak ada yang memantik api untuknya

    Subuh ini aku melawan gigil yang dari semalam menyelimuti
    Membasuh wudhu sekedar tenangkan hati
    Melantunkan bait bait rindu berhias air mata dipenghujung sujud
    Lagi lagi namamu yang berputar
    Bergetar dalam ucapku nan semakin pilu menantimu

    Ya Rabb
    Aku mohon dengan sangat
    Lunakkan hatinya,
    Sekedar datang memberi kabar
    Karena aku ternyata terlalu mencintainya

    05.03
    20 April 2015
    Setelah sujud panjang menumpahkan rindu yang belum mendapatkan tempat bertumpu

    |


  9. Bincang Hati Pagi Ini

    Friday, April 17, 2015



    Aku bertandang ke taman penghabis penat jumat pagi ini
    Menuntaskan duka yang terus merundung tak mau usai
    Berbincang dengan angin ramah mengusap pipi
    Menumpahkan rindu yang tak jua lekang di setiap denyut nadi

    Mendendangkan syair dalam hati
    Berdamai dengan jemari yang lagi mengetukkan aksara dalam layar
    Karena ruang ini aku beri nama puisi
    Berlama-lama menghabiskan waktu untuk sendiri
    Sekedar mematut bayang diri di atas kolam pagi secerah ini
    Lalu aku bertanya pada pantul wajah di atas tenang air
    Hendak kemana? Apa yang terus jua kau tunggu? Lalu apa lagi yang kau takutkan?

    Nikmat Tuhan mana lagikah yang kau dustakan?
    Seduka dukanya luka dalam istanamu?
    Sekelam-kelamnya harmonis yg belum jua menghampiri asalmu?
    Sedalam-dalamnya penyakit yang mengganggu pangeranmu?
    atau sejauh-jauhnya pelipur rindumu yang belum hadir menemuimu?

    Semua akan luruh dalam balutan doa, seromantis cintamu kepada Sang Rabb
    Karena tidak selalu duka yang ada dalam skenario hidup
    Dan tidak melulu gelap dalam singgasana langit-Nya
    Ketika malam semakin kelam, maka matahari sebentar lagi akan terbit

    Tersenyumlah,
    Kita sudah akrab dengan duka dan luka
    Dalam cengkraman kalut, takut dan mata berkabut
    Makhluk seperti kita bisa hidup hanya karena makna ikhlas, syukur dan tawa
    Kembalilah pada hakikinya kehidupan
    Jangan lagi tertutup kotak mimpi, buka selebar cakrawala akan menyambutmu
    Karena kamu adalah pemenang

    10.06
    17 April 2015

    Taman Soeropati, Jakarta
    |


  10. Menetap Dalam Bingkai Alurmu

    Wednesday, April 15, 2015

    Gerimis datang, selimuti malam yang terus merangkak naik di ujung Jakarta
    Temani aku mengeja waktu di stasiun kereta selarut ini

    Di antara bisingnya ibu kota
    Di antara penuhnya manusia berjejal tanpa ampun mengejar metropolitan
    Di antara kusutnya wajah sisa lelah seharian ini
    Di antara remuknya tubuhku, hanya mendamba rehat
    Di antara fikiranku yang tumpang tindih berlari
    Tapi ternyata, kamu masih terus membayang
    Mengelabuhi aku dengan rindu yang terlalu kental
    Aku bisa gila

    Kamu harus tau
    Aku tidak bisa pergi
    Menetap pilihanku
    Aku menunggu bingkai alurmu
    Karena setulus-tulus hati ini, tak pernah senyaman goresan sajak seorang seniman malam

    Telah hangat kau menuntunku mengerti ikhlas mencinta
    Telah panjang mimpi kita ukir untuk nanti
    Telah penuh percayaku akan kamu
    Aku ingin menjadi penghebatmu
    Memungkinkan semua kata dalam cita bersama cinta kita
    Atas nama Allah, semoga di Ridhoi-Nya

    20.38
    Stasiun Pondok Ranji, setelah perjalanan panjang hari ini, 15 April 2015

    |


  11. Tidurku tak lelap semalam tadi
    Gelisah tak keruan mimpi
    Menunggu sapa manismu seperti malam-malam bulan kemarin

    Aku bukan lelah, hanya terlalu pilu dalam rindu yang mengganggu
    Terlalu kelu karna acuhmu yang sungguh menyakitkan
    Jika itu dukamu, berkatalah, sisihkan dukamu untuk kau bagi dengan aku
    Itu yang disebut dengan cinta

    Pukul tiga aku terjaga
    Membuka jendela yang biasa kita bertukar sapa
    Kosong ternyata
    Kau masih angkuh memelihara kata

    Karena doa adalah ungkapan paling rahasia,
    Aku bersujud dalam air mata yang harus tumpah karna rindu akan kamu
    Ku dendangkan ungkapan hati di atas sajadah menembus pagi segelap ini
    Atas jarak yang akhirnya lagi kau ciptakan
    Terlalu sesakkanku untuk rindu yang kau untai sejauh jauh ucap terdengar

    Aku tak bisa pergi, aku tak lelah untuk menetap
    Hanya ingin melihatmu datang
    Karna bunga ingin diperjuangkan sebelum di petik
    Kemarin datang empat kumbang menganggu
    Tertampik semua untuk tulusnya bunga ini menunggu
    Menunggu cinta yang sudah terjalin satu purnama ini
    Katanya, kita sudah menyatu
    Aku hanya bisa berdoa

    03.24
    15 April 2015

    |


  12. Malam Angkuh

    Tuesday, April 14, 2015

    Aku tak pernah membenci malam
    Ia terlalu tenang, mesra dan menghanyutkan utk bisa dibenci

    Malam
    Walau kelam
    Tapi mampu buatku tenggelam
    Mengajarkan butir-butir sajak
    Menggoreskan seni pada ritme cinta
    Pada kata yang terlalu sakral, rindu

    Rindu menjalar perlahan, namun pasti mencekik
    Sesak, tertelan bisu di antara sunyi
    Sunyi sang malam

    Lalu malam pasti datang, setelah petang menghantar bersama kumbang
    Tapi dekapan malam akan merenggang, ketika fajar harus menyapa
    Karena tidak ada kata abadi,
    Maka jangan kau tanam percaya pada hati manapun
    Siapapun, akan memanjakan ego di antara cintanya yg angkuh

    Ah, rasanya kata percaya begitu kosong di hati itu
    Tak bernilai
    Tanpa penghargaan
    Aku pun akhirnya meragu
    Titik nadir pasti akan ditemui
    Ketika kosong terlalu sering menyongsong, di antara upaya yang ternyata tak bisa bersambut kasih
    Kosong
    Semu
    Serupa bayang cinta

    Malam pun tak seramah biasanya, setelah genap satu rembulan

    12.22
    14 April 2015

    |


  13. Ajak Aku Bersamamu

    Sunday, April 12, 2015



    Di dalam ruang yang aku sebut puisi
    Kau berdenyut,
    Memberikan nyawa pada nadi tiap bait kata

    Ku eja lagi sajakmu bernama lentera yang kau kirimkan hari kemarin
    Aku perih dalam kata kata itu

    Izinkan aku menjadi teman dalam jalan setapakmu
    Pelipur lara di antara harapmu yang mungkin harus terjawab kosong di antara malam
    Tempatmu kembali, menumpahkan segala pilu, duka dan marah
    Aku ingin kau percayai itu

    Karena cahaya pasti akan terbit setelah gelap
    Dan kelam tak mesti mendekapmu dengan tega
    Jangan lagi kau tutupi nanar dalam mata yang belum mampu aku tatap

    Ajak aku bersamamu,
    Melewati batu, terjatuh, terluka, atau kecewa,
    Tapi kita akan tetap tersenyum
    Karena aku bersamamu :)

    09.41
    11 April 2015
    |


  14. Pesona Sastra

    Saturday, April 11, 2015



    Aku ingin menulis saja
    Menghabiskan waktu di antara tarian kata
    Memabukkan diri akan pesona sastra
    Menghilangkan raga, hingga yang tersisa hanya sejarah karya

    Aku tak akan berhenti menyulam kata hadirkan makna
    Tak bosan bertasbih di bait bait cerita
    Menikmati rindu, cinta, mimpi dan perjalanan yg berputar di antara kita
    Bagai spektrum cahaya, tampilkan pelangi dipenghujung senja

    Sajak meniti pelita, hidupkan asa sekosong-kosong jiwa
    Mengeja nikmat di setiap perkara, berdamai ketika syair tergores di ujung pena

    Serupa nebula, kemilau anggun di antara bintang membingkai sketsa
    Ku rangkai mimpi menjadi arsitektur makna
    Aku jatuh cinta pada sastra, diantara sulaman kata


    11.49
    Jakarta, 11 April 2015

    Karena puisi itu sakral bagiku, adalah ungkapan paling jujur dari hati dan fikiran.
    Dan puisi adalah bagian dari sastra yang kaya. Pesonanya begitu memabukkan dalam permainan kata. Sastra itu adalah candu. 
    Kau bisa terlihat begitu anggun, cerdas, bijak, matang, dewasa, atau justru kau akan terlihat begitu luka, jatuh, lemah, tengik bahkan terbelenggu kemunafikan di dalam berbait bait sastra. 
    Sastra adalah kehidupan ♡

    |




  15. Malam lagi lagi memeluk kita diantara kata dan cinta
    Membasuh pilu dalam kelam yang ikut mendekap kuat hingga nafas seakan sesak.
    Ketika rindu sampai ubun-ubun, menjalar ke seluruh sendi dan relung
    Ragaku seakan terhempas, terlepas dari jiwa.
    Rindu ini kejam tanpa pelampiasan

    Aku hanya ingin kau miliki
    Di lahirkan hanya untukmu,
    dan kamu dilahirkan hanya untuk aku
    Tuhan...
    Itulah pintaku dalam sebait doa yang aku lantunkan ditiap ujung shalatku

    Untuk semurni-murni kata cinta
    Untuk selekat-lekat janji
    Dan seindah-indah mimpi kita
    Abadikanlah kisah cinta ini dalam balutan kasih asmara yang dihalalkan dari ucap akad

    11 April 2015
    1420 km


    Karena berpuisi bersama seniman malam selalu mampu tularkan nyaman nan tenang penghantar tidur
    |


  16. Belenggu Rindu

    Thursday, April 9, 2015

    Kamu percaya tidak?
    Aku menangis menunggumu

    Ketika belenggu rindu terlalu mengukung, memukul, dan terlalu kaku untuk berkata
    Aku hanya ingin menunggumu lagi menyapa

    Malam semakin kelabu berselimut hujan yang baru saja turun
    Seperti tau akan luka yang akhirnya tergores lagi
    Dingin yang memeluk malam tak bergeser sedikit pun
    Angkuh begitu pongah akan sunyi yang kau rawat

    Kamu percaya tidak?
    Aku menangis menunggumu

    Ku ucap lagi harap dalam sebait doa berulang
    Memupuk cinta di antara perihnya rindu
    Tak inginkah kau sekedar obati?
    Mendekapku dalam kata yang terlalu lama ingin ku dengar
    Mengertilah..

    11.52
    9 April 2015

    |


  17. Sajak Sang Malam

    Tuesday, April 7, 2015

    Photo by : M. Ario Nugroho


    Seribu tanya menggantung di antara pekat malam
    Ketika rembulan utuh sungguhkan wajah penuh senyum
    Tak ada semu di setiap lembar cahaya yang redup menenangkan itu

    Kenapa hanya remang bulan yang kutemui dalam dingin sesenyap ini?
    Lalu bintang bertengger dengan anggun tanpa sapa?
    Kata-kata terlalu erat dalam peluk yang hanya serupa metafora
    Dan wajah teduhmu lagi-lagi menemuiku di antara buai lelap sepertiga malam

    Aku bercumbu dengan sunyi
    Bercengkrama dalam rindu yg memang harus tersimpan
    Kata yang tak terucap, tapi terangkai dengan indah,
    dalam sebait sajak sang malam

    Terurai begitu saja dengan kosong
    Lalu, ku selipkan lagi mimpi dan cinta di nadimu
    Ku titipkan sepotong hati dalam jarak yg terukur di antara kita
    Menjuntai harap, untuk kau kalahkan ruang dan waktu yg kian mengganggu
    Karena rindu terlalu kelu, menunggu mata sayu menyapa dalam temu


    22.34
    6 April 2015



    |


  18. Dekapan Rindu Setulus Hati

    Saturday, April 4, 2015


    Setelah rindu kau juntai sejauh-jauh jarak peluk seniman malam
    Setelah kata yang semakin pelik kau eja diantara sunyi
    Aku hanya bisa menunggu dalam pilu

    Karena malam pasti akan menjemput
    Seindah-indah harap yang kemarin kita rajut
    Dan terang akan tetap terbit
    Tak pernah luput hangatkan hati pecandu simfoni kasih

    Karena doa adalah setulus-tulusnya rindu yg tak terucap
    Dipenghujung fajar, aku lantunkan kembali namamu diantara sajadah
    Dipelupuk mata sayu yg tiada bosan mengukir mimpi

    Atas cinta yang kau jaga, aku menunggumu hadir untuk ucapkan janji suci
    Sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya..
    Atas nama Allah


    08.27
    3 April 2015
    |


  19. Sedari kemarin dingin terasa erat memeluk
    Tak mau pergi hingga pagi
    Nampak enggan tularkan hangat walau sekedar dalam kata
    Membungkam diri, mungkin lebih baik

    Terima kasih untuk untai kata yang kemarin kita sulam bersama
    Kau tuntun aku untuk lagi mencinta dengan ikhlas
    Hanya terucap dalam sujud
    Dan terobati dalam buai seusai terlelap

    Tak ingin lagi menuntut
    Hanya tulus tanpa beban yang dinanti
    Berjalanlah...
    Aku tak lagi memaksamu
    Kembalilah, ketika Allah mengizinkan kita bertemu

    Karena kadang kata-kata tak sedalam hati

    28 Maret 2015
    |



  20. Senja menatap sinis
    Seakan acuh tak mau disapa

    Lalu aku pilu
    Termangu atas tegur yang kosong

    Angkuh, tak lagi ramah dalam mata
    Apa salah sekedar merindu?

    Aku pulang...
    dalam jalanku,
    senyumku mengembang,
    Hujan...
    Hujan masih mau memelukku dalam bodohnya aku

    Berputar,
    Melangkah sejauh itu, hujan tetap bersamaku
    Walau gigil, tapi hanya air dingin ini yang selalu hadir menghibur
    Satu lagi ceritaku yang terekam dalam deras hujan petang ini
    Di antara hiruk pikuk ibu kota, aku bercengkrama dalam bisu
    Bersama sunyi yang ternyata belum bosan bersahabat

    Untuk harap yang aku titipkan di atas kokohnya pundakmu
    Mimpi yang kemarin kau bangun dengan cinta
    Dan kata yang tak pernah terurai dalam dekapku
    Maaf,
    Aku terlalu merindukanmu

    Suaramu yang hadirkan simfoni tanpa cela
    Kata rindu yang tanpa bendung
    Aku hanya ingin mendengarnya lagi


    Setelah menghabiskan sore dalam perjalanan berhujan..
    17.13
    26 Maret 2015
    |