Rss Feed
  1. Gaung Makna dalam Kalbu

    Tuesday, October 4, 2011



    Malam ini lagi lagi ku tak tau ucap apa yang bersuara
    Terlalu ngilu hingga beku rasanya
    Tak ingin kulihat luka bersua di senyummu
    Karna hanya makna yang singgah di jiwa

    Tak dapat lagi ku ukur galau dalam kalbu
    Terlalu pupus bersampul harap yang kelabu
    Aku tak tau asa ini bernama apa
    Yang ku tau hanya getar yang mengiang dalam kata

    Ingin kudengar lagi senandung harap yang kau gaungkan
    Tapi ku tau kalau aku tetaplah luka yang menganga
    Terlalu kosong, hampa, dan duka...

    03.49
    04 Oktober 2011
    |



  2. Dendang lagu terdengar syahdu mengalun dalam rindu
    Menanti malam berganti malam
    Habiskan detik dalam berbait bait lirik

    Mungkin ini yang kubutuh disaat kau terlalu letih untuk dinanti
    Dalam tirai harap yang kau buka, tak ku lihat lagi teduh dalam jiwa
    Senyummu yang lalu sudah lama berbuah ambigu

    Denting melodi tetap bersampul harmoni
    Ciptakan sendu bernada pilu
    Temani rindu yang membeku

    Tak perlu kau hapus indah yang dulu tak sengaja kau ukir
    Karena hampa sudah penuhi tiap sudut kenangan itu

    02.19
    25 Juli 2010
    |


  3. Bahagia Dalam Dekap Senyummu

    Sunday, June 26, 2011


    Hari ini tak terbendung bahagiaku membuncah
    Menjalar hingga ubun-ubun
    Lama aku merindu senyummu
    Tulus tak terkira tularkan cinta 

    Telah lama kita pasang layar menggagah,
    tapi tak pernah kurasa kau sedekat ini
    Dapat kurasa hangatmu membasuhku dengan cinta
    Dapat kuhitung detak jantungmu berdetik

    |


  4. Mati Tak Terkecap Rasa

    Thursday, June 16, 2011


    Bulan tampak mengintip malam yang kian beranjak
    Aku tetap berdiri di bawah temaram tanpa tau arah tujuan
    Keram ini hambatku berjalan
    Hanya terpaku pada aspal tanpa ada ujung perhentian

    Di tempat sekosong ini, akupun tak bisa maknai hati
    Terlalu mati, hingga tak lagi terkecap rasa

    Penantianku tak pernah temui buntu
    Walau hati tak lagi mampu menapak
    Aku tak mengerti akan pinta jiwa
    Mungkin seulas senyum yang belum jua berjumpa

    14 Juni 2011
    |



  5. Detik hujan tak henti putarkan waktu
    Lewat beku yang kau kirimkan, aku coba redakan waktu
    Bertahun tak kau sisipkan makna dalam hatiku
    Tapi aku tetap terselimuti gigil masa lalu

    Kupandangi lagi jalan setapak yang dulu kau janjikan
    Membisu terguyur hujan tanpa usai

    Sore ini kau goreskan duka dalam sendu
    Bersama senyum sayat, kau lukiskan lara dalam jiwa

    Jalan ini masih basah akan rintik, tapi jejakmu tak jua terhapus

    13 Juni 2011
    |


  6. Cinta Berdenyut di Nadimu

    Saturday, June 11, 2011




    Aku tak tahu rasa yang bergelut di hati ini bernama apa
    Aku tak mengerti debar yang mengalun di dada ini berarti apa
    Yang aku tahu, ada wajahmu di jantungku
    |




  7. Malam pun turun temani aku yang semakin tersiksa akan hati
    Bosan dengan harap yang tak jua merapat
    Mungkin karena aku yang tak coba meminta
    Atau karna dia terlalu keras serupa karang?
    |




  8. Hati bergetar hantarkan kalut campur takut
    Tak ingin lagi kulihat perih tergores di hati emasmu
    Tak tahukah engkau, cinta ini membuncah sesaki dada
    Ingin ku jaga engkau tiap detik dengan indah
    |





  9. Malam tak pernah lelah temaniku dengan hangat
    Meski kini aku tengah gigil diselimuti luka

    Malam ini aku takut gerak
    Karena aku tak mau rusak keadaan yang telah berpuing menjadi debu
    Akankah ada pagi menjemputku di stasiun mimpi?
    Menyambutku dengan cerah tanpa awan mendung menutupi,
    akankah itu?
    |





  10. Aku lagi-lagi menghirup aroma cinta mendekat
    Walau luka lebih terasa ketimbang suka
    Tapi cinta tetap beri rasa  untuk hati

    Senja kini menghantarkanku pada masa kelam penuh harap
    Perih itu kembali tergores
    Dan aku tak temui obat
    |




  11. Bulan berdiri anggun temani harap yang mulai mengurai
    Tak lagi ku hirup sejuk, hanya ngilu malam selimuti tulang

    Langit itu luas, tak sesempit yang pernah ku dengar
    Aku punya mata, mengapa tak pernah tatap langit sebebas ini
    Malam ini tak ingin aku dipisahkan dengan bulan
    Ingin ku kisahkan semua padanya
    Akan ku katakan, bahwa aku adalah elang yang bisa terbang bebas jelajahi semesta
    |





  12. Malam ini aku lewati jalan yang mengantar kita menuju impian hebat
    Kala itu, semangat kita amat menggebu dan optimis
    Tak pernah kurasakan kemungkinan sebesar saat itu,
    Membuka lebar menyambut senyum kita
    |





  13. Tak ada yang salah dengan mimpi
    Tak pula dengan harap
    Tapi, masihkah itu berlaku untukku?
    Terlalu sering aku mengubur mimpi, menutupnya rapat-rapat hanya karena ini

    Hal bodoh yang tak pernah usai kuberi tanda tanya
    Yang mulai memuakkan bahkan menjijikan
    |





  14. Kau tuangkan teh dalam cawan-cawan kecil berwarna kelabu
    Padahal kau tahu, aku tak suka teh
    Tak pernah kau suguhkan aku senyum, walau hanya seulas
    Hanya cawan-cawan bisu tanpa gaung
    |


  15. Temaram Hati yang Muram

    Wednesday, June 8, 2011



    Senja ini tak kulihat mesra alam mendekat
    Mungkin marah karena tak ada lagi ramah
    Kini, kulepas mentari dengan getir
    Dan menanti rembulan dengan hati ketir
    |


  16. Sunyi tak Berujung

    Thursday, May 19, 2011


    Tak pernah aku rasakan segelap ini
    Sebenarnya terang, tapi entah tak kurasa setitik pun cahaya

    Menikmati gerimis dengan hati ungu membeku
    Terselip butir-butir harap di antara penat kota
    Melingkarkan tanya akan makna yang kian mengusik
    |



  17. Entah mengapa hati ini membuncah membacamu
    Bersemangat sangat penuhi pintamu
    Akan kutemui kau, yang telah menungguku
    Kan ku bingkisi kau dengan senyum sukses penuh makna

    |


  18. Sajak Cinta Terluka

    Wednesday, May 11, 2011


    Sajak duka tak pernah henti goreskan pena
    Tentang rasa yang mengalun bernama cinta
    Tak ada perih selain pilu

    Duka ini tak pernah usai kelabukan dunia
    Menggores tiap dinding hati dengan tintanya yang basah
    Tak ada yang kuasa menghapus, selain tulus dan pupus

    Sesimpul itu kau sunggingkan senyum
    Mencoba hadirkan sepercik cinta,
    meski kau tahu, luka itu masih menganga

    Inikah yang kau sebut damai?
    Merajut hidup dengan jarum yang selalu menusuk jari
    Sudahlah, kau obati dulu luka di jarimu
    Agar tak ada lagi noda di baju kusammu

    Jakarta, 9 Mei 2011
    *dengan bubuhan judul dari Rahmah Amalyah
    |


  19. Pekat Malam Penghantar Pilu

    Friday, May 6, 2011


    Malam ini terlalu pekat untuk kutuliskan kisah tentang perih
    Sunyi tak akan beri jawab akan tanya yang beribu
    Cahaya tak lagi beri jalan di malam sepilu ini

    Apakah aku terlalu mendusta pada alam?
    Meminta damai, apakah salah?
    Sepi ini telah bosan menemaniku menangis
    Tak adakah suara yang bisa keringkan air mata?

    |


  20. Photo by: Putri Rizki

    Gemerisik pantai alunkan lagu sendu sembilu
    Hantarkan cinta yang membiru
    Tak ada lagi selain biru

    Hendak kemana akupun tak tau
    Hanya berjalan berdamping ombak bersama sunyi
    Hingga sampai pada ujung
    Yang tersisa hanya laut yang semakin membiru

    Pari, 1 Mei 2011
    |


  21. Pantai Kerontang

    Thursday, May 5, 2011

    photo by : Aliya Mu'afa
    Pantai ini terlalu sunyi untuk lepaskan rindu
    Angin ini terlalu ngilu untuk sisipkan pesan

    Adakah harap untuk kutunggu di dermaga yang kosong?
    Terlalu letih aku berteman ombak menantimu

    Tak inginkah engkau merapat di pantai yang kerontang ini?

     Pari, 30 April 2011
    |


  22. Rindu Pada Malam

    Friday, April 29, 2011


    Aku tak pernah mengerti damai
    Mungkin belum
    Aku tak pernah tau cinta
    Mungkin lupa

    Tak lagi kulihat kapal itu merapat
    Sekedar melepas rindu ke perimbaan
    Mungkinkah ia karam dalam pasangnya ombak?
    Atau cuma lelah dengan kebiasaan menjemukan?

    |




  23. Tak ada yang salah dengan mimpi
    Tak pula dengan harap
    Tapi, masihkah itu berlaku untukku?
    Terlalu sering aku mengubur mimpi, menutupnya rapat-rapat hanya karena ini

    Hal bodoh yang tak pernah usai kuberi tanda tanya
    Yang mulai memuakkan bahkan menjijikan

    |


  24. Puisi Adik : Ketidakadilan

    Saturday, April 9, 2011

    Malam, 8 april 2011, adikku, Chairul Arifin menghampiriku yang tengah beristirahat di kamar.
    "Kak, baca deh puisi ilul" disodorkannya sebuah buku tulis kehadapanku.

    Ketidakadilan
    oleh : C. Arifin

    Sungguh kelam, sungguh buta
    Di manakah keadilan di negeri ini
    Aku tetap berdiri di sini menantinya
    Mereka para perebut hak rakyat kecil
    Melambai di luar sana
    |


  25. Tarian Tulus Senyummu

    Saturday, April 2, 2011

    Tarian ombak nan indah
    Namun tak seindah tarian tulus di senyummu

    Desiran angin nan sejuk
    Tapi tak sesejuk hatiku kala menatap senyummu
    |



  26. Hati ini runyam
    Kusut
    Lebih runyam dibandingkan permainan rumus itu

    Di luar sana cerah
    Tapi entah mengapa cahayanya tak mampu tembus dinding hati
    Terlalu kuat, kokoh
    |


  27. Aku tak mengerti akan bisumu
    Serupa batu
    Keras tak terlewati

    Mungkin kau tak pernah mengerti hati lapuk yang menantimu
    Yang terlalu lelah kau permainkan

    Jika aku harus hilangkan bayangku dari megahnya harimu
    Aku hanya ingin mengerti maksudmu
    Apa arti semua
    Apa yang kau mau
    |


  28. Malam ini merah jambu bercampur merah
    Senyum merekah sumringah
    Kecuali hati yang tengah meringis merana
    Hati kelabu nan suram tanpa seburat pun pesona merah jambu

    Mungkin sudah terlalu letih menanti
    Menunggu tanpa pasti
    Entah kapan
    kapal itu akan merapat
    |


  29. Selalu perih menggores hati
    Kalaku tatap nanar di matamu

    Bersama indah senyummu
    Terselip luka menganga
    Sampai kapanpun kau takkan mampu menutupinya

    Telah kubaca galau di kedalaman hatimu
    Namun
    Belum jua kutemui arah
    Cahaya penuntun bagi lautan galaumu 
    |


  30. Youth Camp for Human Rights 2011

    Friday, April 1, 2011


    Video Youth Camp For Human Rights 2011, di sini terkumpul 21 siswa SMA yang peduli akan Hak Asasi Manusia, lalu menggalang kekuatan dan solidaritas untuk sedikit  membantu mereka yang Hak Asasinya dilanggar dan tidak terpenuhi. Setidaknya, ada sedikit langkah dari kami kaum muda untuk perduli dan melawan impunitas.
    |



  31. Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang dapat menghentikan rakyat yang tertindas yang sudah bertekad memperoleh kemerdekaannyaNelson Mandela

    “Kamu gak takut ketemu orang-orang PKI?” tanya seorang sahabatku ketika aku dengan semangat menggebu ingin bercerita tentang kunjunganku ke Panti Jompo tempat tinggal para korban peristiwa 1965. Wajahnya amat tegang dan kikuk seperti tengah mendengar cerita hantu, ia pun berusaha mengalihkan pembicaraan kami ketika itu. 
    Sabtu tanggal 21 November 2010, aku berkunjung ke Panti Waluya Sejati Abadi yang bertempat di Jl Kramat 6 Jakarta Pusat. Aku bertemu beberapa tapol  di sana: Pak Tumiso, Bu Lestari, Bu Sri Sulistiawati, dan Bu Pudjiati. Mereka bercerita banyak hal. Namun ada satu hal yang mengusik pikiranku. “Begini loh, jeng...si Mbah inginnya cuma satu, PR ini ya jeng..si Mbah itu kepingin sekali, generasi penerus mengerti betul apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965 dan 1966”, Bu Lestari yang lebih senang ku panggil ‘Mbah’ menitipkan tugas.
    Hari itu timbul tekad di dadaku untuk mulai mengerjakan PR yang mereka amanatkan. Tapi, melihat tanggapan sahabatku tadi, aku menjadi bingung. Bagaimana cara memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam 30 September, dan apa yang terjadi setelah malam itu. Baru berniat bercerita saja sahabatku sudah takut duluan, bagaimana ia bisa mengetahui fakta sebenarnya?
    |


  32. Indahmu bagai pelangi yang selalu kurindu di teriknya pagi
    Bagai mega merah di sendunya petang
    Bagai rembulan yang menggantung anggun di megahnya malam

    Mungkin kau tak pernah mengerti betapa aku merindumu
    Aku yang selalu rindu akan senyummu
    |


  33. Malam ini kulihat ada luka di pipi langit

    Di celah-celah gemintang

    Mungkin merah itu tak tampak di kelamnya lautan malam
    Tapi perihnya terasa sampai ulu hati
    Seperti ditaburi garam rasanya
    |



  34. Aku yang tak pernah mengerti mengapa aku harus ada
    Aku yang tak pernah engerti akan kata 'aman'
    Aku yang tak pernah tau dimana keadilan

    Kini aku benar benar lelah
    Telah letih mencari dimana pintu keluar
    Kini aku benar benar muak
    Muak akan masa lalu yang menghancurkan
    |