Rss Feed
  1. Friday, July 31, 2015

    Untuk takut yang merayapi tiap inchi tubuh ini
    Demi Tuhan, aku ingin mati

    11.49
    31 Juli 2015

    |


  2. Ketika Senja Temui Malam

    Saturday, June 13, 2015

    Senja kembali menemui malam
    Mengetuk pintu diantara takut

    Lalu disuguhkan secangkir kopi bersama malam
    Tak habis seteguk pun
    Hanya tumpah berjuntai juntai kata yg akhirnya termuntahkan
    Antara jingga bercampur merah wajah senja menahan tangis
    Terlalu pilu dalam satu rembulan ia menelan kata

    Tak pernah sekelu ini
    Tak pernah senja seluka itu

    Lalu hujan tak pernah alpa
    hantarkan dingin memeluk harap yg kian menguap
    Temani senja hingga malam kembali pergi
    Tapi senja terus menunggu malam, tak pernah bosan, tak pernah berhenti haturkan doa
    Hitung detik di antara menit, hanya ingin berdampingan malam
    Menunggu puisi bersama seniman malam

    17.47
    Jakarta, 13 Juni 2015


    |


  3. Letupan Duka

    Friday, June 12, 2015

    Berputar dua rotasi bumi aku bernafas lega
    Walau masih tercekat
    Tersisa degup jantung yang kemarin berlomba terlalu cepat

    Semalam semua terasa suram
    Aku kaku tak berani bergerak sedetik jua
    Serupa magma, semua tumpah dalam caci yang penuh dengan maki
    Tertusuk, mengganjal di kerongkongan
    Aku mati asa
    Aku bisu tertelan kelu

    Duka ku tak terbendung, menghanyutkan tanpa ruang aku bernafas
    Beruntut, berbaris, mengait satu sama lain
    Membentuk mata rantai duka yang mencambuk hati dan relungku
    Aku, perempuan berkerudung duka

    Untuk tawa yang ku bagi kemarin sore,
    Hanya itu yang tersisa untuk setidaknya bahagia terlihat di bibir
    Karena air mata terlalu sungkan aku bagi
    Biar cinta terlihat di mataku, walau hanya nanar yang sebenarnya terasa

    05.15
    Jakarta, 12 Juni 2015

    |


  4. Masih Lekat Terukir

    Thursday, June 11, 2015

    Takutku terjawab, dengan seribu diammu yg semakin panjang
    Lalu aku tetap kaku pada takut
    Bergema serupa memoar luka dalam kalbu
    Bayangmu masih pekat dalam mimpi, sebatas itu

    Entah selekat apa janjimu dulu terukir
    Belum memudar seberkas jua
    Masih bergaung jelas dalam ruang yang aku sebut puisi

    10.19
    Jakarta, 11 Juni 2015

    |


  5. Berkabung Harap

    Wednesday, June 10, 2015

    Jakarta seharian ini terasa gelap tanpa hangat
    Kentara aneh diantara kemarau, tertiup angin gigil dari timur
    Aku mematung bersama beku senja ini

    Lalu kau bertandang
    Melukis kembali senyum yang bulan lalu kau telan bulat bulat
    Aku berkabung atas harap yang kembali akan kau gantung
    Karena dusta lalu ternyata terlalu pekat menggores luka
    Selaksa jiwa, sekosong dekap janjimu yang menguap

    Aku sekedar takut

    Takut, takut amarah memeluk namamu lagi
    Takut duka membayang di antara cerita kita
    Karena kata bisa serupa komedi
    Membangun cerita, namun hanya untuk tawa, tak bermakna sedalam doaku

    07.16
    10 Juni 2015

    |


  6. Ada Kalanya..

    Tuesday, June 2, 2015



    Ada momentnya, kita membiarkan angin membawa diri melayang dan terjatuh di sebuah titik.
    Ada saatnya kita membiarkan kaki melangkah tanpa arah, hingga akhirnya terduduk di suatu tempat, entah dimana.
    Ada kalanya kita membiarkan hujan menguyur, memeluk kita dengan erat, dengan dinginnya, hingga akhirnya kita gigil dalam peluknya.
    Ada saatnya kita membiarkan fikiran begitu kosong, sekedar menghabiskan waktu dalam lamun beratus-ratus menit.
    Ada waktunya kita merasa begitu pasrah, menjalani segalanya mengalir begitu saja, tanpa ambisi berlebih, hanya ingin damai dalam hati.

    Lalu apakah itu titik nadir tanpa nilai?
    Tentu tidak.
    Karena ini adalah manusia, bukan robot tanpa asa.
    Moment ketika akhirnya kita harus mereda sedikit dalam berlari adalah waktu untuk mengingat kembali apa saja yang sudah kita lalui.
    Atau mungkin itu adalah ketika kita merasa begitu lelah setelah berlari dengan cepatnya, tetapi akhirnya kita tersungkur karena batu di tengah jalan.
    Ketika semua target, cita-cita dan visi tertancap mantap di depan dahi, tapi begitu sulit untuk kita genggam.

    Disaat itulah, kita ruangkan waktu untuk sekedar duduk. Sendiri saja, cukup kita, alam dan pemiliknya yang berdiskusi di waktu itu. Menghabiskan waktu berbincang pada diri sendiri, membiarkan mata menangis dan akhirnya menemui jawaban dalam jiwa sendiri, lalu bersyukur atas batu yang telah Rabb izinkan menjadi musabab tersungkurnya kita.
    Karena semua atas izin dari-Nya
    Sepilu apapun itu, sesakit apapun, sesulit apapun dipercaya, sejatuh-jatuhnya, apapun itu adalah bagian dari skenario-Nya.
    Ketika kita dijatuhkan dalam masalah, terlebih masalah yang begitu besar dan pelik, itu adalah pertanda kita akan naik kelas kehidupan. Kita dimasukan dalam masalah itu karena memang kita mampu, subhanallah, nikmat mana lagi yang kau dustakan. Masih diizinkan mengikuti ujian untuk naik kelas kehidupan. Belajarlah dalam hidup, agar mudah melewati ujian dan mampu naik kelas dengan nilai yang baik.

    Karena semua yang ada didepanmu, dihidupmu, baik ataupun buruk adalah bagian pelajaran kehidupan yg harus kita ikuti sebagai tahapan mengikuti ujian tadi.
    Lalu bagaimana untuk kita mampu naik kelas?
    Mengutip satu part dalam buku '9 Matahari'
     
    "Ada 3 aturan main untuk bisa naik kelas dalam sekolah kehidupan.
    1. Tidak menggunakan jarimu untuk menunjuk dan menyalahkan orang lain
    2. Putuskan rantai dendam yang ada dalam diri kamu
    3. Lalu ikhlaslah
    Ikhlas itu adalah bersyukur bahwa apa yg kita dapat hari ini adalah hal terbaik yang diberikan oleh Sang Pemilik Rezeki. Bahwa, masalah yang kamu hadapi saat ini adalah rezeki terbaik bagi kamu. Ingat, dia tidak pernah salah memilihkan peran dan skenario hidup seseorang."

    Ikhlaslah. Yakini rencana kita tak akan lebih sempurna dibanding rencana sang pemilik kita. Jika apa yang kita rencanakan tidak berjalan, dihentikan begitu saja, berarti rencana yang lebih indah akan segera berjalan atas izin-Nya, bersyukurlah, bersabarlah.
    Skenario Sang Rabb terlalu indah dan sempurna untuk mudah kita pahami, perlu tawadhu dan ikhlas untuk benar benar memahaminya.
    Hidup itu indah, jangan sampai rusak hanya karena nafas kita penuh dengan keluhan dan caci maki.
    Duduklah sejenak, merenung, berdiskusi pada jiwamu sendiri, ikhlas, bersyukur dan berbahagialah.

    Selamat belajar :)

    13.59
    2 Juni 2015

    Welcome JUNE!
     
    |


  7. Langit malam nampak merah menahan tangis
    Simpan hujan yg tertumpah dini hari nanti
    Serupa lebam di pipi langit, menahan asa yg kentara terlalu sesak

    Lalu hendak kemana kata kata yg diredam dua pekan kemarin
    Sembilu di antara aksara hingga hilang nyawanya
    Menjaga sakral syair, sejujur-jujur puisi
    Tapi hati ternyata polos tanpa poles
    Hendak berkata, sejenak melunak

    Sudah lama tak ku lihat kau menari menggores seni
    Sebatas itu kau masuki ruang puisi?
    Berdansalah sejenak, dengarkan lagi dendang lama sambil bersajak

    20.32
    Jakarta, 26 Mei 2015

    |