Rss Feed
  1. Langit malam nampak merah menahan tangis
    Simpan hujan yg tertumpah dini hari nanti
    Serupa lebam di pipi langit, menahan asa yg kentara terlalu sesak

    Lalu hendak kemana kata kata yg diredam dua pekan kemarin
    Sembilu di antara aksara hingga hilang nyawanya
    Menjaga sakral syair, sejujur-jujur puisi
    Tapi hati ternyata polos tanpa poles
    Hendak berkata, sejenak melunak

    Sudah lama tak ku lihat kau menari menggores seni
    Sebatas itu kau masuki ruang puisi?
    Berdansalah sejenak, dengarkan lagi dendang lama sambil bersajak

    20.32
    Jakarta, 26 Mei 2015

    |


  2. Untuk Perempuan

    Friday, May 22, 2015

    Berpatut patut dibalik cermin
    Sekedar berbincang pada wajahnya sendiri
    Lalu ia tersenyum, tertawa, sampai akhirnya matanya memudar
    Air mata tak terbendung dalam jujurnya

    Bukan kali pertama luka tersimpan di lembah hatinya
    Dan lagi lagi marah pada diri yang rela tersungkur
    Memaki pantulan cermin, luapkan kata yg tertahan di bibir

    Tapi senyumnya tak pernah cela
    Tawanya masih sempurna dibagi dalam ruang cinta
    Dzikir sujud tak henti mendoakan kasihnya

    Karena perempuan terlalu naif untuk dipandang rapuh
    Pun terlalu tega untuk dibiarkan terus dan lagi tergores luka

    Matanya tetap bulat jeli hantarkan senyum di ujung bibirnya
    Lalu apa kau lihat sinar disana?
    Sudah mati bung, itu hanya topeng cantiknya menutup kecewa
    Tak ada kata penghantar asa di bola matanya, bisu tak terpecahkan

    Untuk perempuan yg sempurna diciptakan anggun oleh-Nya
    Muliakan diri, jangan lagi izinkan diri terjatuh dan berdiam
    Dirimu terlalu berarti untuk dunia
    Tersenyumlah tanpa noda, biar buramnya hati, kita simpan di ujung sujud sembah

    08.05
    21 Mei 2015

    |


  3. Biar Sesak Meradang

    Thursday, May 21, 2015

    Setapak buram, sepekan hitam
    Tak terjamah air mata, karena amarah
    Kalau candumu sayatkan luka,
    Pergilah dengan hapus jejakmu sendiri
    Biar sesak meradang
    Biar luka bersarang, kubagi sendiri dengan jiwa

    07.47
    21 Mei 2015

    |




  4. Menggantung anggun rembulan menggoda
    Sesayup angin timur tiupkan syair pekan kemarin
    Lalu hanya malam berteman seni yg tak pernah alpha
    Sekelam gelap temaram rembulan aduhay

    Lelaki itu tak bergeming sedetik jua
    Hanya melumat habis dapa per dapa tarian laut meliuk lembut
    Tidak pernah sedamai ini,
    Ditempat ini, dermaga kampung kita

    Belum ada kata per aksara pun jua
    Masih mengugu merawat seribu tanya perempuan diseberang sana
    Naif menyimpan asa, hingga busuk lapuk tak ingin dusta
    Tapi kata tak lelah menari
    Berputar seirama simfoni parade laut senja tadi
    Biar mati terkenang cerita, terekam abadi dalam sajak cinta

    Lelaki di ujung dermaga
    Seribu doa, selaksa mimpi, sekelu memori
    Berganti dua rembulan dalam tiap sujud sepertiga malam
    Biar namamu terbawa pelukan tarian ombak pagelaran laut

    00.24
    Jakarta, 21 Mei 2015

    Untuk lelaki di Ujung Dermaga Timur Indonesia
    |


  5. Senandung Usai

    Sunday, May 17, 2015

    Detik terhitung menit, berputar serangkai waktu hingga akhirnya tenggelam hari
    Masih sunyi dari pekik, tanpa tangis, mungkin terlalu kebas

    Lamunan penuh tanya akan kejamnya tokoh yang santun lembut mengetuk hati kemarin
    Lalu tentang noda serampangan di dinding ruang puisi
    Konyol tak tergambar kata

    Seolah pena pun diam, tak mau dulu menari di atas kertas
    Lalu ritme kata dalam berpuisi kemarin mengalun dalam senandung usai
    Kosong
    Begitu kosong, melayang nyawanya
    Terbunuh dusta, tercabik harap
    Tersisa kosong, menguap sunyi senandung usai

    Yang terbenci adalah khianat
    Semudah kata dan janji terucap, begitu rendah tanpa nilai
    Tapi tak ada air mata, tak boleh kalah karena komedi kata
    Hati terlalu sibuk obati kecewa yg menganga tak terkira
    Lalu percayaku kembali ke titik nol
    Semua benar serupa bayang, terlalu semu

    18.34
    15 Mei 2015

    |


  6. Tentang Kata

    Friday, May 15, 2015

    "Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari  menit, bahkan detik"

    Pramoedya Ananta Toer

    Aku menuliskan selarik bait ini karena merasa perlu meredam fikiran dengan fikiran sendiri. Bukan puisi, bukan juga prosa, hanya berbait-bait kata. Berbicara tentang kata, seperti tak pernah usai. Kata mengalir, bercerita, terangkai hingga menghadirkan makna semua tergantung si empunya, tergantung penulisnya, atau tergantung siapa yang mengucap dan seperti apa niat ia mengucap. Kesungguhan, kejujuran, ketulusan, maksud baik, pura-pura, berdusta, teknik menampilkan diri atau bahkan secara tidak sadar hanya membangun harapan yang ternyata kosong bisa disampaikan oleh kata, rangkaian kata.
    Terlebih sastra, aku terlalu menikmati sastra, mencintai dan terlalu bermesra dengannya. Entah kenapa dan mengapa, cita-citaku sedari kecil selalu tertulis dua profesi. Iya, cita-citanya selalu berubah. Pernah aku menulis cita citaku di bangku sekolah dasar dulu, ingin menjadi Sastrawan dan Guru, atau Sastrawan dan dokter, hingga saat ini aku mempunyai cita cita menjadi Sastrawan dan Entrepreneur. Tidak pernah berubah sedari kecil, profesi Sastrawan selalu aku tulis di urutan pertama. Entah, Sastra terlalu mempesona dan setia, seperti ketika aku begitu dimabukkan dan menulis puisi “Pesona Sastra” di blog ini juga. Bukan, aku bukan seorang ahli sastra terlebih orang yg begitu mempelajari teori sastra, aku hanya penikmat dan pecinta, terutama puisi.
    Puisi adalah ungkapan paling jujur, begitulah aku menggambarkannya. Aku terbiasa mengungkapkan yg menekan hati, membuncah bahagia, terluka karena duka, atau meletup syukur di dada ke dalam selarik puisi. Terasa begitu lepas dan tenang ketika usai doa, lalu menumpahkan kembali dalam harmoni kata, aah puisi terlalu sakral di hidupku. Puisi itu anggun, berkarakter, cantik, gagah, jujur, berani dan sering religius. Entah bagaimana menggambarkannya, kadang aku mencintai karyaku sendiri, dan berkali kali jatuh cinta pada untaian kata penyair lain yang jauh lebih merdu melodi kata-katanya.
    Tentang ruang yang aku sebut puisi, aku pribadi memasukinya dengan begitu khusyuk, karena itu ruang kejujuran asaku. Tidak tahu dengan penyair lain, ada yang menuliskan puisi untuk bergerak dan melawan ketertindasan, sebut saja Widji Thukul. Atau menggambarkan pribadi bangsa dalam pandangan pemuda, seperti Chairil Anwar. Tapi aku bukan ahli pengamat tokoh sastra, aku suka mengamati karya  yang begitu murni dari pribadi-pribadi di sekitarku. Aku mengenal Tentang manisnya untaian kata yang pertama kali dikenalkan oleh penyair terdekatku, Rahmah Amalya, kakakku sendiri, dialah guru terbaik yang tetap anggun dengan kata-katanya. Ia menuliskan puisi untuk menumpahkan tangis di selipan kata, karena tangis kita tak pernah berisik, tapi itulah nyawanya, aku mengaguminya. Di antara padatnya makna, dia bercerita banyak dalam puisi dan singkatnya sajak. Puisi tetap menjadi ungkapan paling jujur mungkin baginya. Lalu banyak lagi pribadi lain yang gemar merangkai kata, tidak bisa kusebutkan satu persatu, tetap apresiasiku penuh untuk mereka yang bersastra.
    Belakangan aku terusik dengan prinsipku sendiri. Iya, tentang jujurnya puisi sebagai ungkapan, rasanya tidak semua pribadi begitu. Entah mengapa renunganku berakhir dengan kesimpulan bahwa banyak pengembara asrama menggunakan puisi sebagai pegumbar nafsu, sebagai alat penakluk hati tanpa memandang kesakralan puisi. Ketika harmoni kata benar hanya permainan yang akan berujung pada kata “Game Over”. Puisi itu adalah ungkapan paling jujur, jangan digunakan sebagai alat melukai terlebih menyakiti hati, ia terlalu anggun untuk kelas permainan pencarian asmara. Terlebih terselip doa dalam baitnya, aah keterlaluan, semudah itukah berucap?
    Tak pernah terduga dan terfikirkan sebelumnya, ketika ruang ini yang dimasuki dengan sembarang. Mencoret dinding serampangan tanpa peduli bekasnya hanya mengganggu. Tak perduli tentang hati yang sungguh begitu sakral menyulam kata. Benar-benar tidak terduga ketika ini hanya permainan, karena memang aku mengutamakan apa adanya, karena itu adalah yang terbaik.
    Berbicara tentang kata, tak pernah usai. Untuk kata dan doa yang sempat terjalin, ikhlas dan syukur yang bisa dipupuk asa. Semoga tidak lagi ada hati terluka karena puisi yang serupa bayang, hanya permainan. Puisi menenangkan, anggun dan tempat berekspresi dengan jujur, bukan komedi kata, bukan lelucon semata.

    Salam Penyulam Kata
    Jakarta, 14 Mei 2015


    |


  7. Mendekap Jarak Berbalut Doa

    Tuesday, May 12, 2015

    Malam menjemput asa perempuan duka keperaduan
    Setelah satu kejap mata terpejam dalam buai
    Lalu kembali terbangun dengan meluapnya rindu
    Masih berputar bayang wajah diantara pekatnya rindu sekosong temu

    Mengusir dingin yang menjalar dengan usapan wudhu
    Perpanjang sujud hanya ikhlas untuk berserah
    Ditiap butir doa, kutitipkan rindu sejauh jauh jarak peluk
    Aku mendekapmu atas ridho-Nya

    Di antara kosongnya kata dan suara,
    Masih tergores jelas cinta dalam relung kalbu
    Menumpahkan semua rasa dalam diam di atas sajadah pertengahan malam
    Setulus-tulus kasih, kutitipkan dirimu hanya kepada-Nya
    Biar semesta yg mempertemukan kita

    01.05
    12 Mei 2015
    Setelah Tahajud

    |


  8. Narasi Perpisahan Scosient

    Wednesday, May 6, 2015

    "Truly great friend are hard to find, difficult to leave, and impossible to forget"

    Bismillah hi Rahman ni Rahim
    Ucapkan syukur atas semua nikmat yang masih diberikan kesempatan oleh Sang Rabb untuk kita rasakan. Setiap hembus nafas yang leluasa kita nikmati. Fungsi organ tubuh yang berjalan dengan lancar. Kelengkapan raga, fikiran dan jiwa yang masih melekat dalam diri.
    Senyuman sahabat yang masih kita temui, kehadiran saudara di rumah kita masing-masing, dan cinta dari kedua orang tua yang masih mengalir tanpa henti, selayak doa beliau kepada kita. Alhamdulillah, Alhamdulillah hi rabbil alamiin, Alhamdulillah hi rabbil alamiin, Alhamdulillah hi rabbil alamiin.
    Pernah terbayang ketika 1 menit saja oksigen dihilangkan dari bumi? atau beberapa detik saja organ tubuh berhenti bekerja, darah tidak lagi mau mengalir, jantung tidak ingin berdetak, pernahkah diri kita dalam satu sujud saja mengucap syukur secara khusus untuk nikmat tubuh dan hidup serta sehat yang masih Allah izinkan kita nikmati? Lalu kehadiran kerabat yang tak bosan memberi cinta, pernahkah dalam satu balutan doa, kita ucapkan syukur dengan ikhlas tentang kehadiran dan begitu banyaknya teman dan sahabat yang kita miliki, tentang semua indahnya kata dan cerita yang Allah izinkan untuk kita bagi.
    Tentang cinta dan doa saudara kita yang ternyata tidak pernah lupa menyebut nama kita disetiap ujung shalatnya. Masih ingat kan bagaimana kita bertengkar, mengacuhkan kaka dan adik kita dirumah, tanpa pernah perduli ternyata ia mengharapkan kasih dan kehadiran kita bersamanya dirumah. 
    Lalu tentang ayah dan ibu, hanya wajah asam yang kita berikan ketika uang jajan yang kita terima kecil atau ketika kita dilarang main atau sekedar keluar rumah. Hanya wajah asam dan sapaan ketus yang kita berikan. Pernah kita terfikirkan bagaimana perasaan dua pahlawan kita itu? Yang akhirnya gundah, khawatir setiap menit memikirkan anaknya yang pergi sekolah dengan wajah masam. Yang selalu memikirkan anaknya sudah makan atau belum, siang ini makan apa, apakah ada beban dihatinya ketika uang jajan hari itu begitu kecil, bukan karena apa, tapi memang uang ibunya hanya tersisa segitu.
    Pernahkah terhitung diantara kita, di setiap sujud lima waktu dan shalat malam yang ayah dan ibu dirikan, selalu ada nama kita disebut, hanya ingin anaknya bahagia, sehat seutuhnya, dan tersenyum esok pagi. Pernah tidak ya, kita memikirkan ayah tadi siang makan apa? atau sekedar menanyakan ibu nanti malam mau makan apa? aah, rasanya tidak, kita hanya terfokus pada apa yang kita terima, tanpa perduli kadang sikap kita begitu menyakiti dua orang yang secara ikhlas dan tulus mencintai kita...
    Astagfirullah hal adzim, Astagfirullah hal adzim, Astagfirullah hal adzim...

    Untuk semua nikmat, untuk semua cinta dan untuk semua izin Allah atas berjalannya kehidupan kita, jangan pernah lupa ucapkan syukur dan hamdalah. Karena kita tidak akan pernah tau, kapan semua itu akan diberhentikan. Jangan lagi marah, terlebih menyalahkan keadaan, bahkan ketika kita mendapatkan masalah, kita harus tetap mengucap syukur, karena itu adalah rezeki terbaik yang diberikan oleh Sang Pemilik Rezeki. Dan yakinilah, bahwa masalah adalah satu tanda bahwa kita akan naik kelas dalam kehidupan ini. Ikhlaskan dan Syukuri.

    Lalu hari ini, 4 Mei 2015, terhitung sedari pagi kita sudah menghabiskan detik-detik waktu hanya untuk kita, hanya untuk 30 orang dalam ruangan ini, hanya untuk kita, XII IPA 1. Dan tidak terasa waktu kita disini hanya sampai besok, kurang lebih sehabis ashar kita akan kembali ke Jakarta. 
    SMA, tiga tahun yang ternyata seperti terlewat begitu saja, tiga tahun, kurang lebih 1.095 hari kita tapaki bersama. Rasanya baru kemarin lulus SMP, lalu bingung mau masuk SMA mana, atau ada yang memang sudah menargetkan masuk MAN 9. 
    Lalu akhirnya kita bertemu, di MOS tiga hari awal SMA dulu. Belum, kita belum saling kenal. Belum tau anak manis bernama Halimatus Sadiyah, belum kenal anak lincah bernama Dede Darmawan, belum tau dua hokage bernama Kholil dan Aan, dan belum menyangka akan berteman dengan cowo bernama Choirul Arifin.
    Lalu akhirnya masa-masa sekolah berjalan begitu saja, masih ingat kan bagaimana kita awal kenal dulu di kelas XI IPA 1? masih malu-malu gitu, masih pelit ngasih contekan gitu, dan masih belum senyaman hari ini, belum selepas hari ini. Masih terekam jelas, rasanya pun baru kemarin, kita bangun sepagi mungkin, lalu lari lari kecil masuk ke sekolah sebelum pintu pagar di kunci sama si babe. Dan masih ingat jelas pagi-pagi menyalin pe er punya teman, karena semalam sibuk nonton bola. Atau masih ingat gak? omelan guru yang satu itu, Ibu Ris Mimin, tatapannya itu loh, menggetarkan. Masih jelas terlihat wajah Miss Tris yang repot dengan tingkah kita. Aah rasanya semua masih terlalu singkat untuk kita.
    Sampai akhirnya tidak terasa, sudah dua tahun kita ada dalam ruangan yang kita sebut kelas, dengan aksesoris yang isinya hanya meja, kursi dan selembar papan tulis. Semembosankan itu ruangan kita? Ooh tidak, di ruangan itu sudah terlalu banyak cerita, cita dan cinta kita yang secara tidak sadar sudah kita rajut bersama. Di ruangan itu tidak pernah alpa suara tawa kita, suasana tegang kelas, atau sekedar belajar demi mengejar nilai UTS, UAS dan UN. Cerita di antara kita ngga bisa dijabarkan satu malam ini, terlalu panjangm terlalu indah, dan terlalu sayang untuk akhirnya nanti akan terlupa.
    Dan secara tidak sadar, moment di tempat ini akan menjadi moment terakhir kita bisa berkumpul selengkap ini, besok, lusa dan seterusnya kita ngga lagi masuk ruangan kelas XII IPA 1. Kita tidak akan lagi menggunakan seragam yang itu-itu saja, putih abu-abu. Tapi sadar tidak, kita akan begitu merindukannya nanti, iya nanti, 3-4 tahun ke depan. Ketika tidak ada lagi suara tawa melengking dari Tijah, banyolan khas milik si Dede, atau ngga nemu lagi Fadhil yang hobi tidur di kelas. Aah sudahlah, biarkan tiga tahun SMA, dan dua tahun satu kelas bersama kalian menjadi album manis yang akan aku simpan sebagai bekal dan pembelajaran di setiap langkah kehidupanku yang sebenarnya besok dan nanti.
    Oke, selesai sudah masa SMA. Usai sudah bangku sekolah. Katakan selamat datang pada dunia baru, perkuliahan. Bayangkan dengan jelas diri kalian dengan almamater-almamater universitas kalian nanti. Lihat dengan baik bagaimana gagahnya Ipin dengan almamater hijau UNJnya, atau Aan dengan almamater Biru dongker IPBnya, Sila dengan jurusan Ilmu Gizi IPB. Bayangkan dengan baik sosok kalian ketika kuliah nanti, lihat dan rasakan dengan jelas.
    Lihat, begitu jelas mimpi kita sudah terancang. Merentang lebar siap menyambut kita. Masih panjang perjalanan kita di depan. Genggam, genggam lebih erat tangan kawan di sampingmu, rasakan denyut dan aliran darah semangat yang ada di sana. Semangat kita masih sama, XII IPA !, Scosient siap menaklukan dunia! Kita akan tetap sama, masih akan tetap begini sampai nanti. Jangan pernah lupa akan cerita kita, dan jangan luput semangat dalam dada. Karena kitaa, SATUU!!
    (Berputar lagu Bondan Prakoso, Sang Juara)
    Dalam hitungan ketiga, lepaskan, teriakan sekuat mungkin nama kelas kalian! Satu, Dua, Tiga.. SCOSIENT!!!


    Narasi Perpisahan yang saya tulis, lalu saya bacakan di tengah lingkaran renungan malam perpisahan kelas adik saya, XII IPA 1, MAN 9 Jakarta. Senang rasanya ada dalam bagian bahagia dan tangis perpisahan mereka.
    Adik saya, Choirul Arifin, yang sedari Februari kemarin tengah merasakan Kanker Nasofaring yang ada dalam rongga hidungnya. Tidak mudah bagi dia menyelesaikan bangku persekolahan SMA berbarengan dengan serangkaian pengobatannya, kemoterapi dan lainnya, melaksanakan UAS dan UN di ruang UKS.
    Tetapi ternyata semangat dari teman-temannya begitu luar biasa, kehadiran mereka setiap hari dalam perjuangan itu begitu menularkan semangat dalam diri adik saya Terima kasih untuk persahabatan dan keikhlasan doa kalian untuk Ipin.
    Semangat yaa, jalan kalian masih panjang, selamat melepas masa putih abu-abu adiks :)

    4 Mei 2015
    Cisarua, Bogor



     Terima kasih Scosient :)

     Selfie bareng, serasa 4 tahun lebih muda :D


    Bersama Choirul Arifin, alias Ipin, Alias Ilul :D

    |


  9. Cinta di Butir Doa

    Tuesday, May 5, 2015

    Pertengahan malam setelah tiga bulan kita mengenal
    Hatiku tak bisa jauh dari nama dan bayangmu
    Bisikan sepi selalu mengejek
    Bayang kehilangan selalu menjadi hantu dalam lamunan

    Karena cintaku terlalu lekat akan kamu
    Semakin rindu semakin gagu, lalu aku hampir mati menahan kata

    Namun doa yang selalu terucap dan hati yang selalu ikhlas
    Yakinkanku akan sebuah kebahagiaan
    Atas nama Allah asa ini tumbuh
    Memupuk cinta dan cita di penghujung sujud

    Untuk semua kata yang terucap
    Untuk semua doa diakhir shalat
    Kuyakinkan Semesta mengaminkan

    Jalan kita masih panjang, semua akan baik saja :)

    5 Mei 201
    Seniman Malam kembali Menyulam Kata di antara 1420 km

    |


  10. Semanis tawa, seanggun senyum
    Indah cinta kembali menyapaku dengan halus
    Di antara kata yg mengalir bersama kita
    Setidaknya rinduku terbalut lagi cintamu

    Selingkar untai diksi
    Melukis lagi puisi kita
    Sepenuh asa, selekat-lekat rindu kita bertabur

    Lalu kapan kita bersua?
    Aku tak tau,
    Biar Rabb Sang maha cinta yg mempertemukan
    Agar lebih indah, tak terkira rindu kita membuncah

    12.21
    5 Mei 2015

    |


  11. Sapa Semu Untuk Nona

    Sunday, May 3, 2015

    Seharian ini Jakarta hujan
    Sederas deras rindu, selekat dingin hadir memeluk nona

    Lalu puisinya kembali menari
    Berputar makna tak mau lekang dari bayang prianya
    Apakah semu?
    Ia tak tau

    Sepucuk cinta yang ia mengerti
    Sapa kosong pertengahan malam tadi
    Dan tak lagi berpantul setelah jawabnya dengan buncah hati
    Sungguh nona menanti seharian ini,
    Lagi lagi berteman hujan tiada henti

    Lalu nona mengeja kata cinta satu setengah purnama kemarin
    Tersungging senyum, walau matanya basah tak mampu tertutupi
    Cintanya belum jua luntur, semakin lekat di antara sunyi
    Menunggu tuan sudi sudahi permainan menggores hati
    Jangan lagi lukai, tulus hatinya hanya ingin dihargai

    16.36
    Jakarta, 3 Mei 2015

    |