Rss Feed
  1. Senandung Usai

    Sunday, May 17, 2015

    Detik terhitung menit, berputar serangkai waktu hingga akhirnya tenggelam hari
    Masih sunyi dari pekik, tanpa tangis, mungkin terlalu kebas

    Lamunan penuh tanya akan kejamnya tokoh yang santun lembut mengetuk hati kemarin
    Lalu tentang noda serampangan di dinding ruang puisi
    Konyol tak tergambar kata

    Seolah pena pun diam, tak mau dulu menari di atas kertas
    Lalu ritme kata dalam berpuisi kemarin mengalun dalam senandung usai
    Kosong
    Begitu kosong, melayang nyawanya
    Terbunuh dusta, tercabik harap
    Tersisa kosong, menguap sunyi senandung usai

    Yang terbenci adalah khianat
    Semudah kata dan janji terucap, begitu rendah tanpa nilai
    Tapi tak ada air mata, tak boleh kalah karena komedi kata
    Hati terlalu sibuk obati kecewa yg menganga tak terkira
    Lalu percayaku kembali ke titik nol
    Semua benar serupa bayang, terlalu semu

    18.34
    15 Mei 2015

    |


  2. 0 komentar:

    Post a Comment