Rss Feed
  1. Tentang Kata

    Friday, May 15, 2015

    "Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari  menit, bahkan detik"

    Pramoedya Ananta Toer

    Aku menuliskan selarik bait ini karena merasa perlu meredam fikiran dengan fikiran sendiri. Bukan puisi, bukan juga prosa, hanya berbait-bait kata. Berbicara tentang kata, seperti tak pernah usai. Kata mengalir, bercerita, terangkai hingga menghadirkan makna semua tergantung si empunya, tergantung penulisnya, atau tergantung siapa yang mengucap dan seperti apa niat ia mengucap. Kesungguhan, kejujuran, ketulusan, maksud baik, pura-pura, berdusta, teknik menampilkan diri atau bahkan secara tidak sadar hanya membangun harapan yang ternyata kosong bisa disampaikan oleh kata, rangkaian kata.
    Terlebih sastra, aku terlalu menikmati sastra, mencintai dan terlalu bermesra dengannya. Entah kenapa dan mengapa, cita-citaku sedari kecil selalu tertulis dua profesi. Iya, cita-citanya selalu berubah. Pernah aku menulis cita citaku di bangku sekolah dasar dulu, ingin menjadi Sastrawan dan Guru, atau Sastrawan dan dokter, hingga saat ini aku mempunyai cita cita menjadi Sastrawan dan Entrepreneur. Tidak pernah berubah sedari kecil, profesi Sastrawan selalu aku tulis di urutan pertama. Entah, Sastra terlalu mempesona dan setia, seperti ketika aku begitu dimabukkan dan menulis puisi “Pesona Sastra” di blog ini juga. Bukan, aku bukan seorang ahli sastra terlebih orang yg begitu mempelajari teori sastra, aku hanya penikmat dan pecinta, terutama puisi.
    Puisi adalah ungkapan paling jujur, begitulah aku menggambarkannya. Aku terbiasa mengungkapkan yg menekan hati, membuncah bahagia, terluka karena duka, atau meletup syukur di dada ke dalam selarik puisi. Terasa begitu lepas dan tenang ketika usai doa, lalu menumpahkan kembali dalam harmoni kata, aah puisi terlalu sakral di hidupku. Puisi itu anggun, berkarakter, cantik, gagah, jujur, berani dan sering religius. Entah bagaimana menggambarkannya, kadang aku mencintai karyaku sendiri, dan berkali kali jatuh cinta pada untaian kata penyair lain yang jauh lebih merdu melodi kata-katanya.
    Tentang ruang yang aku sebut puisi, aku pribadi memasukinya dengan begitu khusyuk, karena itu ruang kejujuran asaku. Tidak tahu dengan penyair lain, ada yang menuliskan puisi untuk bergerak dan melawan ketertindasan, sebut saja Widji Thukul. Atau menggambarkan pribadi bangsa dalam pandangan pemuda, seperti Chairil Anwar. Tapi aku bukan ahli pengamat tokoh sastra, aku suka mengamati karya  yang begitu murni dari pribadi-pribadi di sekitarku. Aku mengenal Tentang manisnya untaian kata yang pertama kali dikenalkan oleh penyair terdekatku, Rahmah Amalya, kakakku sendiri, dialah guru terbaik yang tetap anggun dengan kata-katanya. Ia menuliskan puisi untuk menumpahkan tangis di selipan kata, karena tangis kita tak pernah berisik, tapi itulah nyawanya, aku mengaguminya. Di antara padatnya makna, dia bercerita banyak dalam puisi dan singkatnya sajak. Puisi tetap menjadi ungkapan paling jujur mungkin baginya. Lalu banyak lagi pribadi lain yang gemar merangkai kata, tidak bisa kusebutkan satu persatu, tetap apresiasiku penuh untuk mereka yang bersastra.
    Belakangan aku terusik dengan prinsipku sendiri. Iya, tentang jujurnya puisi sebagai ungkapan, rasanya tidak semua pribadi begitu. Entah mengapa renunganku berakhir dengan kesimpulan bahwa banyak pengembara asrama menggunakan puisi sebagai pegumbar nafsu, sebagai alat penakluk hati tanpa memandang kesakralan puisi. Ketika harmoni kata benar hanya permainan yang akan berujung pada kata “Game Over”. Puisi itu adalah ungkapan paling jujur, jangan digunakan sebagai alat melukai terlebih menyakiti hati, ia terlalu anggun untuk kelas permainan pencarian asmara. Terlebih terselip doa dalam baitnya, aah keterlaluan, semudah itukah berucap?
    Tak pernah terduga dan terfikirkan sebelumnya, ketika ruang ini yang dimasuki dengan sembarang. Mencoret dinding serampangan tanpa peduli bekasnya hanya mengganggu. Tak perduli tentang hati yang sungguh begitu sakral menyulam kata. Benar-benar tidak terduga ketika ini hanya permainan, karena memang aku mengutamakan apa adanya, karena itu adalah yang terbaik.
    Berbicara tentang kata, tak pernah usai. Untuk kata dan doa yang sempat terjalin, ikhlas dan syukur yang bisa dipupuk asa. Semoga tidak lagi ada hati terluka karena puisi yang serupa bayang, hanya permainan. Puisi menenangkan, anggun dan tempat berekspresi dengan jujur, bukan komedi kata, bukan lelucon semata.

    Salam Penyulam Kata
    Jakarta, 14 Mei 2015


    |


  2. 0 komentar:

    Post a Comment