Rss Feed
  1. Letupan Duka

    Friday, June 12, 2015

    Berputar dua rotasi bumi aku bernafas lega
    Walau masih tercekat
    Tersisa degup jantung yang kemarin berlomba terlalu cepat

    Semalam semua terasa suram
    Aku kaku tak berani bergerak sedetik jua
    Serupa magma, semua tumpah dalam caci yang penuh dengan maki
    Tertusuk, mengganjal di kerongkongan
    Aku mati asa
    Aku bisu tertelan kelu

    Duka ku tak terbendung, menghanyutkan tanpa ruang aku bernafas
    Beruntut, berbaris, mengait satu sama lain
    Membentuk mata rantai duka yang mencambuk hati dan relungku
    Aku, perempuan berkerudung duka

    Untuk tawa yang ku bagi kemarin sore,
    Hanya itu yang tersisa untuk setidaknya bahagia terlihat di bibir
    Karena air mata terlalu sungkan aku bagi
    Biar cinta terlihat di mataku, walau hanya nanar yang sebenarnya terasa

    05.15
    Jakarta, 12 Juni 2015

    |


  2. 0 komentar:

    Post a Comment