Rss Feed
    Showing posts with label Puisi. Show all posts
    Showing posts with label Puisi. Show all posts
  1. Hujan Senja Ini

    Wednesday, December 10, 2014

    Sore lagi lagi menemuiku dgn muram yg tak mau pergi dari wajahnya
    Karena waktu tak akan berhenti
    Melaju tanpa perduli kamu yg terseret mengikutinya
    Terpapah tanpa tau arah

    Hujan bergerak lambat bergeser dari kampung sebelah
    Begitu perlahan, seakan gerimis ini menghentikan segalanya
    Yg ada hanya aku dgn kosongnya tatap dan bisunya rintik yg perlahan tiupkan semilir udara hujan

    Semua menjadi begitu tenang seiring hujan yg tersenyum
    Menggandengku keluar dari dunia yg bising akan benci dan caci
    Seketika hujan menjadi hangat menyejukan, seelok embun di pelupuk pagi
    Matahari yg katanya hanya sampai petang menemani, terus menggantung sinar
    Bercengkrama dengan anganku yg semakin terbang, hanyut terbawa tenangnya hujan sore ini
    Walau pelangi enggan menari, tapi alam tengah manis mendekap
    Terima kasih senja, kau masih mampu hadirkan sekulum senyum pada wajahku yg terlalu kosong dari kata cinta

    17.13
    8 Desember 2014


  2. Gaung Makna dalam Kalbu

    Tuesday, October 4, 2011



    Malam ini lagi lagi ku tak tau ucap apa yang bersuara
    Terlalu ngilu hingga beku rasanya
    Tak ingin kulihat luka bersua di senyummu
    Karna hanya makna yang singgah di jiwa

    Tak dapat lagi ku ukur galau dalam kalbu
    Terlalu pupus bersampul harap yang kelabu
    Aku tak tau asa ini bernama apa
    Yang ku tau hanya getar yang mengiang dalam kata

    Ingin kudengar lagi senandung harap yang kau gaungkan
    Tapi ku tau kalau aku tetaplah luka yang menganga
    Terlalu kosong, hampa, dan duka...

    03.49
    04 Oktober 2011


  3. Dendang lagu terdengar syahdu mengalun dalam rindu
    Menanti malam berganti malam
    Habiskan detik dalam berbait bait lirik

    Mungkin ini yang kubutuh disaat kau terlalu letih untuk dinanti
    Dalam tirai harap yang kau buka, tak ku lihat lagi teduh dalam jiwa
    Senyummu yang lalu sudah lama berbuah ambigu

    Denting melodi tetap bersampul harmoni
    Ciptakan sendu bernada pilu
    Temani rindu yang membeku

    Tak perlu kau hapus indah yang dulu tak sengaja kau ukir
    Karena hampa sudah penuhi tiap sudut kenangan itu

    02.19
    25 Juli 2010

  4. Bahagia Dalam Dekap Senyummu

    Sunday, June 26, 2011


    Hari ini tak terbendung bahagiaku membuncah
    Menjalar hingga ubun-ubun
    Lama aku merindu senyummu
    Tulus tak terkira tularkan cinta 

    Telah lama kita pasang layar menggagah,
    tapi tak pernah kurasa kau sedekat ini
    Dapat kurasa hangatmu membasuhku dengan cinta
    Dapat kuhitung detak jantungmu berdetik


  5. Mati Tak Terkecap Rasa

    Thursday, June 16, 2011


    Bulan tampak mengintip malam yang kian beranjak
    Aku tetap berdiri di bawah temaram tanpa tau arah tujuan
    Keram ini hambatku berjalan
    Hanya terpaku pada aspal tanpa ada ujung perhentian

    Di tempat sekosong ini, akupun tak bisa maknai hati
    Terlalu mati, hingga tak lagi terkecap rasa

    Penantianku tak pernah temui buntu
    Walau hati tak lagi mampu menapak
    Aku tak mengerti akan pinta jiwa
    Mungkin seulas senyum yang belum jua berjumpa

    14 Juni 2011


  6. Detik hujan tak henti putarkan waktu
    Lewat beku yang kau kirimkan, aku coba redakan waktu
    Bertahun tak kau sisipkan makna dalam hatiku
    Tapi aku tetap terselimuti gigil masa lalu

    Kupandangi lagi jalan setapak yang dulu kau janjikan
    Membisu terguyur hujan tanpa usai

    Sore ini kau goreskan duka dalam sendu
    Bersama senyum sayat, kau lukiskan lara dalam jiwa

    Jalan ini masih basah akan rintik, tapi jejakmu tak jua terhapus

    13 Juni 2011

  7. Cinta Berdenyut di Nadimu

    Saturday, June 11, 2011




    Aku tak tahu rasa yang bergelut di hati ini bernama apa
    Aku tak mengerti debar yang mengalun di dada ini berarti apa
    Yang aku tahu, ada wajahmu di jantungku



  8. Malam pun turun temani aku yang semakin tersiksa akan hati
    Bosan dengan harap yang tak jua merapat
    Mungkin karena aku yang tak coba meminta
    Atau karna dia terlalu keras serupa karang?



  9. Hati bergetar hantarkan kalut campur takut
    Tak ingin lagi kulihat perih tergores di hati emasmu
    Tak tahukah engkau, cinta ini membuncah sesaki dada
    Ingin ku jaga engkau tiap detik dengan indah




  10. Malam tak pernah lelah temaniku dengan hangat
    Meski kini aku tengah gigil diselimuti luka

    Malam ini aku takut gerak
    Karena aku tak mau rusak keadaan yang telah berpuing menjadi debu
    Akankah ada pagi menjemputku di stasiun mimpi?
    Menyambutku dengan cerah tanpa awan mendung menutupi,
    akankah itu?




  11. Aku lagi-lagi menghirup aroma cinta mendekat
    Walau luka lebih terasa ketimbang suka
    Tapi cinta tetap beri rasa  untuk hati

    Senja kini menghantarkanku pada masa kelam penuh harap
    Perih itu kembali tergores
    Dan aku tak temui obat



  12. Bulan berdiri anggun temani harap yang mulai mengurai
    Tak lagi ku hirup sejuk, hanya ngilu malam selimuti tulang

    Langit itu luas, tak sesempit yang pernah ku dengar
    Aku punya mata, mengapa tak pernah tatap langit sebebas ini
    Malam ini tak ingin aku dipisahkan dengan bulan
    Ingin ku kisahkan semua padanya
    Akan ku katakan, bahwa aku adalah elang yang bisa terbang bebas jelajahi semesta




  13. Malam ini aku lewati jalan yang mengantar kita menuju impian hebat
    Kala itu, semangat kita amat menggebu dan optimis
    Tak pernah kurasakan kemungkinan sebesar saat itu,
    Membuka lebar menyambut senyum kita




  14. Tak ada yang salah dengan mimpi
    Tak pula dengan harap
    Tapi, masihkah itu berlaku untukku?
    Terlalu sering aku mengubur mimpi, menutupnya rapat-rapat hanya karena ini

    Hal bodoh yang tak pernah usai kuberi tanda tanya
    Yang mulai memuakkan bahkan menjijikan




  15. Kau tuangkan teh dalam cawan-cawan kecil berwarna kelabu
    Padahal kau tahu, aku tak suka teh
    Tak pernah kau suguhkan aku senyum, walau hanya seulas
    Hanya cawan-cawan bisu tanpa gaung

  16. Temaram Hati yang Muram

    Wednesday, June 8, 2011



    Senja ini tak kulihat mesra alam mendekat
    Mungkin marah karena tak ada lagi ramah
    Kini, kulepas mentari dengan getir
    Dan menanti rembulan dengan hati ketir

  17. Sunyi tak Berujung

    Thursday, May 19, 2011


    Tak pernah aku rasakan segelap ini
    Sebenarnya terang, tapi entah tak kurasa setitik pun cahaya

    Menikmati gerimis dengan hati ungu membeku
    Terselip butir-butir harap di antara penat kota
    Melingkarkan tanya akan makna yang kian mengusik


  18. Entah mengapa hati ini membuncah membacamu
    Bersemangat sangat penuhi pintamu
    Akan kutemui kau, yang telah menungguku
    Kan ku bingkisi kau dengan senyum sukses penuh makna


  19. Sajak Cinta Terluka

    Wednesday, May 11, 2011


    Sajak duka tak pernah henti goreskan pena
    Tentang rasa yang mengalun bernama cinta
    Tak ada perih selain pilu

    Duka ini tak pernah usai kelabukan dunia
    Menggores tiap dinding hati dengan tintanya yang basah
    Tak ada yang kuasa menghapus, selain tulus dan pupus

    Sesimpul itu kau sunggingkan senyum
    Mencoba hadirkan sepercik cinta,
    meski kau tahu, luka itu masih menganga

    Inikah yang kau sebut damai?
    Merajut hidup dengan jarum yang selalu menusuk jari
    Sudahlah, kau obati dulu luka di jarimu
    Agar tak ada lagi noda di baju kusammu

    Jakarta, 9 Mei 2011
    *dengan bubuhan judul dari Rahmah Amalyah

  20. Pekat Malam Penghantar Pilu

    Friday, May 6, 2011


    Malam ini terlalu pekat untuk kutuliskan kisah tentang perih
    Sunyi tak akan beri jawab akan tanya yang beribu
    Cahaya tak lagi beri jalan di malam sepilu ini

    Apakah aku terlalu mendusta pada alam?
    Meminta damai, apakah salah?
    Sepi ini telah bosan menemaniku menangis
    Tak adakah suara yang bisa keringkan air mata?