-
Mati Tak Terkecap Rasa
Thursday, June 16, 2011
Bulan tampak mengintip malam yang kian beranjak
Aku tetap berdiri di bawah temaram tanpa tau arah tujuan
Keram ini hambatku berjalan
Hanya terpaku pada aspal tanpa ada ujung perhentian
Di tempat sekosong ini, akupun tak bisa maknai hati
Terlalu mati, hingga tak lagi terkecap rasa
Penantianku tak pernah temui buntu
Walau hati tak lagi mampu menapak
Aku tak mengerti akan pinta jiwa
Mungkin seulas senyum yang belum jua berjumpa
14 Juni 2011Diposkan oleh koikhoiriyyah di 3:30 PM | Label: Malam, Penantian, Puisi | 3 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Gigil Selimuti Luka
Saturday, June 11, 2011
Malam tak pernah lelah temaniku dengan hangatMeski kini aku tengah gigil diselimuti luka
Malam ini aku takut gerakKarena aku tak mau rusak keadaan yang telah berpuing menjadi debuAkankah ada pagi menjemputku di stasiun mimpi?Menyambutku dengan cerah tanpa awan mendung menutupi,akankah itu?Diposkan oleh koikhoiriyyah di 1:26 AM | Label: Luka, Malam, Puisi | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bulan berdiri anggun temani harap yang mulai menguraiTak lagi ku hirup sejuk, hanya ngilu malam selimuti tulang
Langit itu luas, tak sesempit yang pernah ku dengarAku punya mata, mengapa tak pernah tatap langit sebebas iniMalam ini tak ingin aku dipisahkan dengan bulanIngin ku kisahkan semua padanyaAkan ku katakan, bahwa aku adalah elang yang bisa terbang bebas jelajahi semestaDiposkan oleh koikhoiriyyah di 1:02 AM | Label: Malam, Puisi, Sunyi | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Temaram Hati yang Muram
Wednesday, June 8, 2011
Senja ini tak kulihat mesra alam mendekat
Mungkin marah karena tak ada lagi ramah
Kini, kulepas mentari dengan getir
Dan menanti rembulan dengan hati ketir
Diposkan oleh koikhoiriyyah di 12:54 PM | Label: Malam, Muram, Puisi | 2 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Luka di Pipi Langit
Friday, April 1, 2011
Malam ini kulihat ada luka di pipi langit
Di celah-celah gemintang
Mungkin merah itu tak tampak di kelamnya lautan malam
Tapi perihnya terasa sampai ulu hati
Seperti ditaburi garam rasanya
Diposkan oleh koikhoiriyyah di 2:19 PM | Label: Malam, Puisi | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |





