Rss Feed
  1. Sajak Cinta dalam Rindu

    Saturday, April 11, 2015



    Malam lagi lagi memeluk kita diantara kata dan cinta
    Membasuh pilu dalam kelam yang ikut mendekap kuat hingga nafas seakan sesak.
    Ketika rindu sampai ubun-ubun, menjalar ke seluruh sendi dan relung
    Ragaku seakan terhempas, terlepas dari jiwa.
    Rindu ini kejam tanpa pelampiasan

    Aku hanya ingin kau miliki
    Di lahirkan hanya untukmu,
    dan kamu dilahirkan hanya untuk aku
    Tuhan...
    Itulah pintaku dalam sebait doa yang aku lantunkan ditiap ujung shalatku

    Untuk semurni-murni kata cinta
    Untuk selekat-lekat janji
    Dan seindah-indah mimpi kita
    Abadikanlah kisah cinta ini dalam balutan kasih asmara yang dihalalkan dari ucap akad

    11 April 2015
    1420 km


    Karena berpuisi bersama seniman malam selalu mampu tularkan nyaman nan tenang penghantar tidur

  2. Belenggu Rindu

    Thursday, April 9, 2015

    Kamu percaya tidak?
    Aku menangis menunggumu

    Ketika belenggu rindu terlalu mengukung, memukul, dan terlalu kaku untuk berkata
    Aku hanya ingin menunggumu lagi menyapa

    Malam semakin kelabu berselimut hujan yang baru saja turun
    Seperti tau akan luka yang akhirnya tergores lagi
    Dingin yang memeluk malam tak bergeser sedikit pun
    Angkuh begitu pongah akan sunyi yang kau rawat

    Kamu percaya tidak?
    Aku menangis menunggumu

    Ku ucap lagi harap dalam sebait doa berulang
    Memupuk cinta di antara perihnya rindu
    Tak inginkah kau sekedar obati?
    Mendekapku dalam kata yang terlalu lama ingin ku dengar
    Mengertilah..

    11.52
    9 April 2015


  3. Sajak Sang Malam

    Tuesday, April 7, 2015

    Photo by : M. Ario Nugroho


    Seribu tanya menggantung di antara pekat malam
    Ketika rembulan utuh sungguhkan wajah penuh senyum
    Tak ada semu di setiap lembar cahaya yang redup menenangkan itu

    Kenapa hanya remang bulan yang kutemui dalam dingin sesenyap ini?
    Lalu bintang bertengger dengan anggun tanpa sapa?
    Kata-kata terlalu erat dalam peluk yang hanya serupa metafora
    Dan wajah teduhmu lagi-lagi menemuiku di antara buai lelap sepertiga malam

    Aku bercumbu dengan sunyi
    Bercengkrama dalam rindu yg memang harus tersimpan
    Kata yang tak terucap, tapi terangkai dengan indah,
    dalam sebait sajak sang malam

    Terurai begitu saja dengan kosong
    Lalu, ku selipkan lagi mimpi dan cinta di nadimu
    Ku titipkan sepotong hati dalam jarak yg terukur di antara kita
    Menjuntai harap, untuk kau kalahkan ruang dan waktu yg kian mengganggu
    Karena rindu terlalu kelu, menunggu mata sayu menyapa dalam temu


    22.34
    6 April 2015




  4. Dekapan Rindu Setulus Hati

    Saturday, April 4, 2015


    Setelah rindu kau juntai sejauh-jauh jarak peluk seniman malam
    Setelah kata yang semakin pelik kau eja diantara sunyi
    Aku hanya bisa menunggu dalam pilu

    Karena malam pasti akan menjemput
    Seindah-indah harap yang kemarin kita rajut
    Dan terang akan tetap terbit
    Tak pernah luput hangatkan hati pecandu simfoni kasih

    Karena doa adalah setulus-tulusnya rindu yg tak terucap
    Dipenghujung fajar, aku lantunkan kembali namamu diantara sajadah
    Dipelupuk mata sayu yg tiada bosan mengukir mimpi

    Atas cinta yang kau jaga, aku menunggumu hadir untuk ucapkan janji suci
    Sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya..
    Atas nama Allah


    08.27
    3 April 2015

  5. Sedari kemarin dingin terasa erat memeluk
    Tak mau pergi hingga pagi
    Nampak enggan tularkan hangat walau sekedar dalam kata
    Membungkam diri, mungkin lebih baik

    Terima kasih untuk untai kata yang kemarin kita sulam bersama
    Kau tuntun aku untuk lagi mencinta dengan ikhlas
    Hanya terucap dalam sujud
    Dan terobati dalam buai seusai terlelap

    Tak ingin lagi menuntut
    Hanya tulus tanpa beban yang dinanti
    Berjalanlah...
    Aku tak lagi memaksamu
    Kembalilah, ketika Allah mengizinkan kita bertemu

    Karena kadang kata-kata tak sedalam hati

    28 Maret 2015


  6. Senja menatap sinis
    Seakan acuh tak mau disapa

    Lalu aku pilu
    Termangu atas tegur yang kosong

    Angkuh, tak lagi ramah dalam mata
    Apa salah sekedar merindu?

    Aku pulang...
    dalam jalanku,
    senyumku mengembang,
    Hujan...
    Hujan masih mau memelukku dalam bodohnya aku

    Berputar,
    Melangkah sejauh itu, hujan tetap bersamaku
    Walau gigil, tapi hanya air dingin ini yang selalu hadir menghibur
    Satu lagi ceritaku yang terekam dalam deras hujan petang ini
    Di antara hiruk pikuk ibu kota, aku bercengkrama dalam bisu
    Bersama sunyi yang ternyata belum bosan bersahabat

    Untuk harap yang aku titipkan di atas kokohnya pundakmu
    Mimpi yang kemarin kau bangun dengan cinta
    Dan kata yang tak pernah terurai dalam dekapku
    Maaf,
    Aku terlalu merindukanmu

    Suaramu yang hadirkan simfoni tanpa cela
    Kata rindu yang tanpa bendung
    Aku hanya ingin mendengarnya lagi


    Setelah menghabiskan sore dalam perjalanan berhujan..
    17.13
    26 Maret 2015

  7. Ku Peluk Jarak dalam Aksara Rindu

    Friday, March 27, 2015

    Di pertengahan malam ini, di antara hujan turun tiada henti
    Aku melukis wajahmu dalam embun hujan di balik kaca jendela
    Sambil mendengar gemericik setiap tetesnya di atap rumah,
    bagaikan musik alam nan merdu

    Hatiku tak menentu malam ini,
    terasa bahagia tak lagi mampu ku bendung
    Membuncah...
    Detik jam kian menyatu diantara kelam menemani,
    Bagai melodi dalam menikmati kebahagiaan ini

    Ku eja lagi aksara rindumu sore tadi, terekam tulus dalam tiap ucap
    Aku rindu..
    Aku rindu,
    katamu di seberang sana,
    Terhalang seribu empat ratus dua puluh kilometer
    Tapi aku masih mampu terjemahkan dengan jelas

    Kita ucap lagi sebait doa pelipur rindu hari ini
    Sebagai penyemangat untuk dua insan yang terpaut kasih yang terhalang jarak
    Pintaku malam ini, satukan kami dalam cinta yang abadi

    Jakarta - Makassar

    24 Maret 2015