Rss Feed
  1. Ketika Lagu Membisu

    Friday, March 27, 2015

    Tepat pukul dua pagi dini hari
    Gelap masih memeluk dalam pekat yang tercekat
    Lalu kata semakin sulit terucap
    Karena ego yang mungkin sudah mengikat

    Baru tiga belas jam lalu aku membeku diantara lagu manismu
    Kamu hadir entah karena rindu atau kaku pada pintaku
    Yang aku tau siang tadi,
    aku terlalu ingin mendengar suaramu

    Cinta hanya ingin tulus tanpa cela
    Mengalun perlahan, namun membekap tanpa ampun
    Hingga menjadi candu, yang melulu membuatku merintih rindu

    Mungkin asa yang tak terucap,
    Pilu yang tak terungkap,
    Dan kasih yang ikhlas di tiap doa,
    Akan lebih berkilau di hatimu

    Akan kudendangkan lagi lagu yang membisu,
    Di antara sapa yang terputus dalam jarak

    02.05
    27 Maret 2015

  2. Kutemui lagi sunyi malam dingin
    Masih tetap menatap butir hujan di kaca jendela

    Sudah sepekan ini malamku menjadi lebih panjang
    Habis diantara gundah menanti kabar
    Menanti kata yang menari di antara jemarimu
    Kata yang serupa pupuk tumbuhkan senyum tanpa hujuang dikulum bibir

    Sudah hampir dini hari,
    Mataku sayup, hampir pasrah menatap layar yang tak jua bergetar mengantar kabar
    Aku tetap menantimu,
    Menantimu yang sekedar mengirimkan kata pengantar mimpi, seperti sepekan lalu

    Untuk kata yang mungkin sempat melukaimu di hari kemarin
    Atau mungkin gores kecewa pada hatimu,
    Aku sungguh percaya akan kamu
    Hanya doa yang bisa aku titipkan dalam tiap sujud membawa namamu
    Memohon untuk menjaga hatimu hanya untuk aku
    Kita bertemu atas seizin Allah, begitu katamu
    Aku mengaminkan

    00.38
    21 Maret 2015

  3. Stay Positive

    Friday, March 20, 2015

    Aku mempelajari hal hebat dari orang yang begitu ikhlas menjalani hidupnya.
    Belum ada kata marah pada hidup, apalagi menyalahkan takdir dalam ucapnya.
    Selalu berusaha menghadirkan senyum dan tawa pada diri orang lain, tanpa sempat memikirkan dirinya sendiri.
    Ia hanya ingin berarti dan bermanfaat.

    Entah kenapa hari ini ingin menulis tentang hal ini.
    Hidup adalah bagaimana kita memaknai dan menikmatinya. Mengikuti semua rencana Tuhan yang telah disiapkan dengan indah. Keyakinan ini selalu dipupuk untuk membuat kita bersyukur pada apapun yang kita terima dan jalani.
    Menyalahkan keadaan, atau sekedar bersumpah serapah pada masalah yang kadang menghampiri kita tanpa negosiasi, memang adalah hal yang paling mudah untuk kita lakukan. Emosi meningkat, fikiran negatif menguasai, dan semua terlihat serba mencurigakan. Kepuasaan pasti akan terasa ketika itu. Iya, ketika itu saja. Karena setia pada yang baik adalah upaya yang tidak pernah sia-sia.
    Malam itu aku membaca tentang apa yang disebut “mimpi harus kita punya”. Tanpa mimpi, bagaimana orang macam kita bisa bertahan hidup? Bukankah bermimpi itu gratis? Tinggal bagaimana kita mampu melampaui mimpi-mimpi itu. Anies Baswedan mengatakan “Pemimpin itu adalah Pemimpi+N. N nya adalah Nyali” jadi untuk menjadi pemimpin, kita cukup menjadi seorang yang berani bermimpi. Subhanallah.
    Seorang yang baru aku kenal, yang saat ini membuatku menghabiskan bermenit-menit dalam jeda kegiatanku untuk sekedar merenungi makna hidup. Ia adalah seorang yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Hidupnya enak? Tentu tidak, terlalu banyak pembelajaran hidup yang ia dapatkan di usianya yang masih terbilang muda. Karena orang besar dilahirkan dari rahim kehidupan yang kaya akan makna dan proses hidup yang tidak boleh mudah. Ia terlalu kuat jika hidupnya tanpa liku.
    Banyak mengalami kesulitan, cobaan dan hal yang menakjubkan membuatnya kerap mengeluh? Rasanya tidak. Ternyata ia benar-benar seorang pemimpin. Tidak mengenal penyesalan, keluhan, apalagi serapah pada kehidupan. Optimis itu harus kata dia, “tidak ada yang tidak mungkin jika yang diatas sudah berkehendak” begitu ucapnya ketika itu. Ucapan itu terdengar biasa saja, banyak yang sudah mengucapkannya. Tapi ia mengatakan itu karena sudah merasakan asam manis garam kehidupan di usianya yang muda, dan ia benar memegang prinsip itu dalam menjalani hidup. Semoga mimpinya terlampaui, mengukir senyum di bibir kedua pahlawannya, Ayah dan Ibu.
    Lalu ia menghabiskan waktu luangnya di antara anak-anak jalanan. Transfer ilmu pengetahuan dan berupaya memenuhi hak bahagia anak-anak. Nampaknya, lingkup ini mengajarkan berjuta makna pada dirinya. Jangan pernah merasa menjadi orang paling sulit dalam hidup. Mensyukuri segala nikmat dari Tuhan, nikmat hidup, nikmat bersaudara, nikmat dilahirkan dan sebagainya bisa kita lakukan ketika kita ikhlas.
    “Ikhlas itu adalah bersyukur bahwa apa yang kita dapat hari ini adalah hal terbaik yang diberikan oleh Sang Pemilik Rezeki. Bahwa, masalah yang kamu hadapi saat ini adalah rezeki terbaik bagi kamu. Ingat, Dia tidak pernah salah memilihkan peran dan skenario hidup seseorang” -9 Matahari-
    Setiap perkenalan akan memberikan pembelajaran baru jika kita mampu memaknai dan menghargai setiap pribadi. Setialah pada yang baik. Berupaya naik kelas dalam sekolah kehidupan, dan tentunya berikanlah kebermanfaatan untuk lebih banyak sesama. Stay Positive!




  4. Detik ini nadiku berdetup lebih getar,
    wajahku kebas membaca kata-kata cintamu
    Ini nyata atau hanya sekedar fatamorgana
    Entah, yang aku tau cinta telah merasuk dalam relung hati,
    melemahkan jiwaku, hingga merusak logikaku

    Masih terukir sempurna lekuk senyummu serupa capture itu, ya aku merindukanmu
    Tak puas rasanya hanya memandangmu lewat layar kecil tanpa suara
    Melumat tiap sudut senyummu tanpa alpa sesenti pun,
    aku sudah mampu melukismu dengan cinta

    Lalu kamu menuntunku untuk lagi mengalahkan jarak dan waktu
    Karena bagiku tiap butir doalah yang mampu mendekatkan jarak
    Hingga kau mengajarkan aku menghargai waktu untuk mencintaimu

    Untuk semua kata,
    untuk semua tawa
    Dan untuk semua air mata,
    Aku untai sebait ucap, terima kasih sayang..

    18 Maret 2015

    berpuisi bersama Seniman Malam



  5. Sore itu hujan turun tak seramah hari-hari kemarin
    Gelap tanpa ampun dan tularkan dingin sedalam-dalam sukma
    Aku tak mengapa biru membeku senja ini
    Asalkan jangan kamu
    Berucap dingin tak terkira, pucat pasi tak bisa lagi kau tutupi

    Hari itu kamu menangis adik
    Serasa runtuh hatiku mendengar isakmu
    Tersedak lendir yang bersarang jahat di rongga hidungmu
    Sesak mengguncang bahumu yang semakin ringkih
    Jangan, jangan lagi kau jatuhkan air matamu

    Karena pangeran Ibu akan tetap jadi jagoan istana kita
    Matamu masih berkata kalau semua akan baik-baik saja

    Masih terasa hangat genggam tanganmu dini hari malam lusa kemarin,
    ketika suhu tubuhmu lagi-lagi naik,
    Aku akan tetap di sini

    Selalu manis terdengar sapaanmu setiap waktu
    Karena hanya kamu adikku

    Tenang, Allah bersama kita

    12 Maret 2015

  6. Kalut di Antara Hujan

    Tuesday, March 17, 2015

    Tiba tiba tanpa aba-aba hujan turun dengan kalap
    Gelap mengungkung bergantian dengan terang diantara petir
    Aku menangis

    Sore ini hatiku kembali kalut
    Tak menentu, tapi tak bisa berteriak
    Karena bibirku kelu
    Senyum yang kau hadirkan tadi pagi akhirnya pergi tanpa bekas
    Aku menangis tanpa suara

    Yang aku takutkan bermalam-malam kemarin akhirnya kau ucap dengan mudah
    Cintamu akan dia

    Hati-hati pada hati ini, sekali tergores, akan sulit mengobati
    Karena cintaku sederhana tanpa syarat,
    putih bersih tak ingin lagi terluka
    Aku mempercayaimu

    15.30
    17 Maret 2015

  7. Tarian Laut

    Saturday, January 31, 2015

    Awan bergerak perlahan menemui garis laut yang tenang terbentang
    Nyanyian laut bersiul mendawaikan sebuah lagu yg tak pernah alpa hadirkan sejuk dalam kalbu
    Tarian ombak tak henti berayun sisakan buih yg putih manis menyapa

    Sore ini aku lagi lagi menemui alam-Mu yang selalu bertasbih
    Memainkan parade kerajaan alammu yang tak mampu dilukiskan indahnya dengan kata

    Ombak yg bertemu karang, menghantam tanpa ampun untuk hadirkan permainan mewah tarian laut
    Bergoyang tanpa lelah, sempurna tularkan senyum pada wajah yg bulat menanti bulan
    Laut terlalu bersahabat dengan lagu dan tariannya yg selalu berpentas tanpa peduli siapa yg disuguhkannya
    Karna alam hadir dengan ikhlas untuk menjelaskan tenang, cinta dan makna pada manusia

    Syukur sembah beribu anugrah yang Engkau ciptakan
    Maha suci Allah dengan segala nikmatnya

    17.43
    19 Januari 2015
    Batu Hiu, Tasikmalaya