Rss Feed
  1. Rintihan Takut Berselimut Kabut

    Monday, November 10, 2014



    Aku takut, begitu kalut hingga mata berkabut

    Ternyata dinginnya malam tak mampu memeluk emosi yang menyakitkan, hingga harus ku muntahkan
    Mengalir berdebar hingga ujung nadi
    Apakah ini harus mengguncang kalbuku sekeras itu?

    Aku takut, begitu kalut hingga mata berkabut

    Karena kata bisa menjadi begitu jahat memekakan telinga jika terus berulang dengan kejam
    Aku hanya rindu sunyi menemani setiap sejuknya nafas berhembus
    Harmoni sunyi yang tercipta akan lebih memanja di telinga
    Tetapi aku akan terlalu egois untuk berteman sunyi

    Merindu damai, mendamba cinta tanpa cela dendam
    Tak ingin lagi emosi dalam tiap sudut mata yang perih
    Tak ingin lagi getar dalam tiap keluh yang berputar bagai cinema
    Tak ingin lagi sesak dalam tiap ujung teriak malam hari
    Aku hanya ingin bermimpi dengan restunya

    Aku takut, begitu kalut hingga mata berkabut. gelap.


    11.34
    10 November 2014

  2. Illustration by : Indri Muchtar 


    Bulat sempurna, kuning matang, tertegun rendah menyapaku dalam kosong
    Malam masih merambat memeluk lembang yang semakin dingin

    Terlalu manis dalam hamparan lampu yang menari menghadirkan satu harmoni visual
    Aku mendengar nada yang dengan mesra berbisik dari alam

    Bulan berselimut awan seakan bercerita tentang kisah yang memang tak seharusnya ada
    Aku masih ingin bercumbu dengan nyanyian jangkrik dan angin yang terlalu merdu untuk ku sudahi


    Bandung, 9 September 2014

  3. Book Of Miracles

    Wednesday, October 15, 2014

    "Kita semua dalam proses penciptaan
    Kita merupakan karya yang masih berlangsung dan berpotensi menciptakan karya seni dengan memanfaatkan kehidupan yang dijalani, 
    tanpa takut akan kehilangan,
    perubahan,
    penilaian dan kegagalan. "

    Book Of Miracles

    Salah satu kutipan elegan dalam buku Book Of Miracles, menyampaikan bagaimana sederhananya kita menjalani hidup dan harus berarti tanpa harus takut. Beautiful!

  4. Selamanya Berkawan

    Monday, October 6, 2014

    Lalu kenapa selalu namamu yang berputar dalam setiap kisahku?
    Selalu namamu yang kucari ketika aku bingung harus apa
    Selalu candamu yang mampu melebur semua rasa yang mengganggu
    Selalu sosokmu yang kucari ketika sendiri
    Kenapa selalu kamu?

    Tidak ada takut
    Semua terasa mungkin
    Semua akan baik
    Dan aku akan kuat
    Ketika kamu ada disampingku
    Cukup Kehadiranmu

    Sudah panjang perkenalan kita
    Sudah panjang cerita antara kita terucap
    Sudah penuh percayaku akan kamu
    Tapi kamu tak lebih dari seorang sahabat yang selalu aku cari
    Karena kita memiliki untuk selamanya
    Selamanya berkawan

    21.50
    18 September 2014

  5. Asa Ini Harus Selesai

    Sunday, October 5, 2014



    Hujan tak jua hentikan dingin yang terus menjalar
    Menghitung rintik yang tak habis sampai magrib
    Gelap turun menambah beku yang tak bisa ku elak lagi
    Mungkin aku merindumu

    Teduh matamu tak pernah alpha mengganggu malam malamku dalam bunga tidur
    Tak inginkah kau hadirkan senyum esok pagi untukku?

    Siang tadi sapaku terjawab kosong tanpa makna darimu
    Senja ini kau putuskan harap yang memang harus aku selesaikan
    Karena asa ini tak boleh melekat lebih lama hingga hanya luka yang membekas

    Mungkin kau hanya harus tahu,
    sikapmu dalam tiap lembar hariku kemarin begitu indah mendayu
    Mengukir cerita walau hanya beberapa berkas
    Terima kasih untuk senyummu kemarin..

    18.49
    29 Agustus 2014


  6. Sajak Subuh

    Saturday, October 4, 2014



    Butir per butir tasbih terus berucap dari bibir yang semakin gigil
    Udara subuh memeluk setia tak ingin lenggang walau sedetik

    Sujudku masih panjang dalam tiap bait-bait rindu
    Merintih memohon ampun atas raga dan jiwa yang semakin kotor
    bersimpuh menceritakan segalanya dalam hangatnya kalbu,
    aku kembali pada-Mu Ya Rabb...

    05.13
    5 Ramadhan 1435

  7. Hati

    Saturday, June 28, 2014



    Meneguk sehela sejuk
    Lewati kerongkongan yang semakin perih
    Kelabu tanpa rasa
    Semua berlalu tanpa asa

    Karena waktuku sama dengan waktumu
    tak kurang tak lebih
    Bukan ingin selalu keluh kesah,
    tapi hati sedang layu
    Mau dikata apa? karena memang tak ada yang ingin peduli

    Lalu siapa yang obati hati?
    Siapkan pundak hanya untuk sekedar bersandar mendengarkan
    Lalu siapa yang keringkan air mata?
    Karena jiwa terlalu rapuh untuk lagi di tampu